This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 17 Maret 2011

Anak Baru

Sore itu, suasana di Indiana CafĂ© terlihat sangat ramai.  Ditengah keramaian cafe, terlihat empat orang sahabat sedang asyik berbincang-bincang satu sama lain. Keempat sahabat itu adalah Kevin, Diko, Riva dan Rachel. Ketika Riva sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba Kevin memotong pembicaraan…
Kevin                   : ’’Eh Dik, cewek tuh.’’
Diko           : ’’Haa ?? Mana ?’’
Kevin                   : ’’Ituuu.. Yang duduk sambil minum milkshake.’’
Diko           : ’’Ooo.. Terus kenapa ?’’
Kevin                    : ‘‘Samperin yuk.‘‘
Diko           : ‘‘Ogah ah.. Lo aja sana.‘‘
Kevin                   : ‘‘Hah, payah lo.‘‘
          Akhirnya Kevin beranjak dari tempat duduknya. Lalu pergi menuju tempat cewek yang dimaksudnya tadi.
Kevin          : “Hai. Boleh kenalan? Gue Kevin. Lo ?“ (sambil mengulurkan tangan)
Vira            : “Vira.” (tersenyum lalu menyambut tangan Kevin.)
Kevin          : ‘‘Emm, ngomong-ngomong, lo sekolah dimana ?’’. (to the point dan sok akrab banget)
Vira            : “Besok hari pertama saya di SMP Ghotic Soc.”
Kevin                   : “Wah, sama dong. Gue di kelas VIIIG. Kalo lo?”
Vira            : “Wah, saya belum tahu bakal di kelas mana. Kan saya belum ke             sekolah.”
Kevin          :  “Kapan-kapan hang out bareng yuk!!“
Vira             : “Beneran kamu mau jalan sama aku??“
Kevin          : “Tentu.“
Vira            : “Oke. Aku tunggu.“
          Tanpa disadari Kevin, Diko memperhatikan keduanya.
Diko           : “Eh, liat tuh. Si Kevin sedang beraksi.“ (bicara pada Riva dan Rachel)
Riva            : ’’Haha, tuh anak penyakitnya kambuh. Nggak bisa diem kalau liat cewek bening dikit.’’
Diko           : ’’Sssstt.’’ (mengarah pada Riva)
Riva            : (melirik pada Rachel)
Riva            : ’’Ehem.’’
Rachel        : ’’Apa ?? ’’(menoleh pada Riva)
Diko           : ’’Sabar buu.. ’’
          Hening sejenak. Kemudian mereka bertiga tertawa terbahak- bahak. Bahkan sampai Kevin datang menghampiri mereka, mereka masih tertawa.
***
          Sepulangnya dari Indiana Cafe, Riva dan Rachel berjalan memasuki sebuah kompleks perumahan sambil mereka berdua bercakap-cakap.
Riva            : ’’Eh Rach, lo punya saingan baru dong.”
Rachel        : “Maksud lo? “
Riva            : “Tadi itu lho. Siapa namanya?? Vi.. Vii.. Vika ??”
Rachel        : “Vira ?’’
Riva            : ’’Yaa..’’
Rachel        : ’’Idiieh. Nggak ya. Ngapain juga, saingan ama tu anak.’’
Riva            : ’’Alaa. Jaim lo.’’
Rachel        : ’’Hahaha. Bisa aja lo.’’
Riva            : ’’Hahaha.’’
          Pembicaraan terhenti ketika mereka berpisah. Menuju rumah masing-masing.
Riva            : ‘‘Dadagh Rachel.“(melambaikan tangan)
Rachel        : “Dagh.“ (memberi senyuman pada Riva)
***
          Keesokan harinya, di SMP Ghotic Soc...
Kevin          : (masuk ke kelas, lalu menghampiri Riva, Rachel dan Diko yang sedang bergerombol)
Kevin          : “Eh, prend, hari ini ada murid baru nggak di kelas kita??“
Rachel        : “Ada.“
Kevin          : “Yang bener, mana?“(tampak berapi-api dan bersemangat)
Rachel        : “Tuh. Yang duduk di belakang. Pojok kiri. Namanya Arga.“ (sambil menunjuk ke arah meja belakang pojok kiri)
Arga           : “Hai, prend.“ (tersenyum)
Kevin          : “Hai juga. Have a nice day. Dihari pertamamu di SMP ini.’’ (tersenyum, lalu menoleh ke arah Rachel)
Kevin          : “Kok...“ (tampak kecewa sekaligus terkejut ketika telah melihat)
Diko           : “Kenapa?“
Kevin          : “Yakin dia? Kok cowok. Abis itu...“
Diko           : “Lo kenapa sih?“
Riva            : “Jangan bilang lo berharap anak baru itu adalah Avril Lavigne.’’
Rachel        : “Yeee, nggak mungkin kali, Riv. Ketuaan buat masuk SMP.“
Riva            : “Yaa, kali aja.”
Kevin          : “Udah ah, ngaco lo semua.”
Diko           : “Kecuali gue.”
Rachel        : “Ada juga lo yang ngaco. Kenapa emangnya ama anak baru itu?” (bicara kepada Kevin)
          Belum sempat mereka selesai bicara, bel tanda masuk berbunyi. Mereka segera duduk di tempatnya masing-masing.
Tak lama kemudian, tampak seorang perempuan memasuki ruang kelas VIIIG. Sejenak suasana kelas menjadi hening. Sama heningnya seperti pikiran Kevin. Seperti tak menyangka siapa yang datang. Dan....
Vira            : “Selamat pagi, anak-anak.“
Murid         : “Pagi.“ (serentak)
Vira            : ’’Perkenalkan. Saya Vira. Saya guru baru di SMP ini. Sekaligus wali kelas baru kalian. Dan... Kamu? (menunjuk ke arah Kevin) Nama kamu Kevin kan?!“
Seketika itu juga, wajah Kevin terlihat pucat pasi. Sedang, Riva, Rachel dan Diko sibuk tertawa terbahak-bahak. Raut wajah mereka penuh arti. Arti, seakan tahu apa yang menjadi pikiran Kevin sejak tadi pagi tentang anak baru.

SIAL

(drama gerak)
Suatu hari, di sebuah taman terlihat seorang anak perempuan sedang duduk sendirian di salah satu bangku taman itu. Dia tak lain adalah Mano. Ya.. begitulah teman-temannya memanggilnya. Mano terlihat sedang melamun. Pandangan matanya kosong. Hingga tiba-tiba…
Mano : (melirik ke samping. Di sebelah tempatnya duduk.)
Mano melihat sebuah buku usang tergeletak di sampingnya. Entah apa yang sedang dia pikirkan , tiba-tiba dia mengambil buku itu. Halaman demi halaman dia buka, hingga akhirnya..
Mano : (mengangkat benda yang baru ditemukannya dengan pandangan heran campur tidak percaya.)
Mano menemukan sebuah kalung bermata sebuah cincin. Mano lalu memasang kalung itu. Meski dia tak tau siapa pemilik kalung tersebut. Karena merasa senang dengan barang temuannya, Mano memutuskan untuk memperlihatkan kepada teman-temannya. Mano pun baranjak dari tempat duduknya, hendak berkeliling taman.

Mano : (berjalan dengan senang sambil melihat kesana kesini, mencari di mana teman-temannya.)
Sintia : (berjalan berlawanan arah dengan Mano. Dengan tergesa-gesa.)
Karena terlalu senang, Mano tidak memperhatikan sekelilingnya. Bahkan saat ia berjalan, pandangannya kesana-kemari.
Sintia : Brukk. (jatuh ditabrak Mano. Buku bawaannya jatuh berantakan. Segera mengambil bukunya yang jatuh)
Mano : (mundur sedikit. Kaget dengan apa yang terjadi. Lalu jongkok, dan membantu Sintia membereskan bukunya. Lalu mengulurkan tangannya yang berisi buku kepada Sintia)
Sintia : (berdiri sambil menerima buku dari Mano.)
Mano : (mengulurkan tangannya kembali. Berniat ingin minta ma’af.)
Sintia : (dengan wajah kesal, menerima uluran tangan Mano.)
Mano : (melepaskan jabatan tangan. Tersenyum ke arah Sintia, lalu pergi meninggalkan Sintia.)
Sintia : (heran. Lalu melirik dengan sinis ke arah Mano yang berada di belakangnya.)
Mano : (terus berjalan. Tidak memperdulikan pandangan Sintia.)
Sintia : (berpaling. Lalu hendak melanjutkan berjalannya. Tapi tiba-tiba... Brukk.. Sintia terpeleset lagi. Bajunya kotor dan bukunya semakin berantakan.)
Mano yang tak tahu tentang Sintia, tetap melanjutkan jalannya. Di tengah jalan, Mano ketemu dengan Pepeb.
Pepeb : (sedang duduk sambil membaca koran.)
Mano : (menyibak koran Pepeb, berniat menyapa. Lalu memberi senyuman pada Pepeb.)
Pepeb : (membalas senyuman Mano. Lalu melanjutkan membaca.)
Mano : (pergi melanjutkan perjalanannya.)
Pepeb : (menoleh ke arah Mano pergi. Tiba-tiba koran yang dipegangnya tersobek. Dilanjutkan dengan kursi yang ia duduki patah. Lalu ,“gubrakk“ Pepeb jatuh tersungkur.)
Mano : (menoleh ke arah Pepeb. Heran dengan apa yang terjadi. Lalu kaburrr..)
Melihat hal itu, Mano terheran-heran oleh Pepeb. Tapi, bukannya menolong, Mano malah kabur. Di jalan, Mano memikirkan tentang apa yang barusan dia alami dengan orang yang bertemu dengannya. Mengapa mereka sial..?? Sedang heran dengan pikirannya, Mano bertemu dengan Aziez.
Mano : (memandang ke arah Aziez. Dengan muka melas.)
Aziez : (menoleh ke arah Mano.)
Mano : (“apa kau sial hari ini ?“ . Mano menanyakan hal itu kepada Aziez.)
Aziez : (menggeleng.)
Mano : (tersenyum. Senang dengan jawaban Aziez. Lalu melambaikan tangan, dan melanjutkan jalannya.)
Aziez : (tersenyum. Juga melanjutkan jalannya. Membelakangi Mano. Tapi tiba-tiba kaki Aziez menginjak sebuah kulit pisang. Aziez lalu terpeleset. Belum berakhir, sebuah kotoran burung jatuh menimpa Aziez. Aziez tergelinding lalu akhirnya masuk ke sebuah selokan. Bajunya kotor, dan wajahnya heran.)
Mano : (menoleh dengan wajah kaget campur sedih ke arah selokan di mana Aziez jatuh. Lalu, kaburr...)
Lagi-lagi Mano kabur melihat hal seperti itu terjadi pada orang yang di jumpainya. Mano takut hendak menolong. Takut jika nanti dia yang disalahkan atas kejadian yang menimpa orang itu.
Mano : (tetap berjalan. Namun kini dengan pandangan kosong. Lalu melihat bola lewat di depannya. Memungut bola itu. Dan membawanya.)
Wahyu : (lewat di depan Mano.)
Mano : (mengulurkan bola kepada Wahyu. Hendak di ajak bermain.)
Wahyu : (menggeleng. Dengan ekspresi wajah sok sibuk. Lalu pergi meninggalkan Mano.)
Mano : (sedih. Lalu pergi.)
Wahyu : (mengambil camilannya. Lalu memakannya. Tiba-tiba Wahyu tersedak. Segera meraih botol minumnya. Tapi merusut hingga menumpahi Wahyu. Hingga akhirnya Wahyu terpeleset karena tumpahan air.)
Lagi-lagi Mano hanya melihat lalu pergi. Sama seperti yang lalu. Mano berjalan dan terus berjalan.
Mano : (heran. Melihat Aziez penuh plaster dan perban di sekujur tubuhnya. Mano berjalan menuju Aziez.)
Aziez : (takut malihat Mano. Aziez lari tergesa-gesa. Hingga tak menyadari ada pohon di depannya. Dan ‘brukk’.. Pohon di tabrak Aziez.)
Mano : (melongo.)
Kebetulan tak jauh dari pohon yang ditabrak Aziez, Pepeb, Sintia dan Wahyu yang sedang duduk di sebuah bangku melihat kejadian itu. Mereka semua tertawa terbahak-bahak kepada Aziez maupun Mano. Tapi sayangnya, tawa mereka tak berlangsung lama. Karena..
Pepeb cs : (tersungkur ke belakang karena bangku yang tadi mereka duduki patah.)
Mano : (menangis melihat apa yang terjadi pada teman-temannya dan dirinya.)
Karena tak tega melihat Mano menangis seperti itu, Sintia, Pepeb, Aziez dan Wahyu menghampiri Mano.
Mano : (tersedu-sedu. Lalu seperti ingat sesuatu. Mano lalu melepas kalung yang tadi ia temukan.)
Teman-teman : (heran dengan sikap Mano.)
Mano : (meyakinkan pada mereka bahwa kalung itulah yang membuatnya menjadi pembawa sial.)
Teman-teman : (percaya dengan pendapat Mano. Lalu Aziez mengusulkan untuk membuangnya.)
Mano : (menuruti usul Aziez. Setelah dibuang, Mano menghampiri mereka semua. Lalu tersenyum. Kemudian menjauh dari mereka.)
Teman-teman : (heran dengan perilaku Mano. Tetap berdiri, tidak ada kejadian apapun yng bisa disebut sial.)
Mano : (tersenyum lega melihat hal yang barusan didapatinya. Lalu berjalan mendekati teman-temannya lagi.)
Semua : (tertawa dengan girangnya. Lalu berjalan bersama. Sambil bercanda ria.)
Akhirnya Mano tahu apa yang membuatnya menjadi “pembawa sial“. Karena kalung itu ternyata. Kalung yang tak jelas asal dan usulnya. Mano membuang kalung itu. Melemparnya. Hingga kalung itu terbang entah kemana.. Dan kalung itu.................. saya temukan.

The End ^^