Oke,
seharusnya aku telah menyadari hal ini sejak awal.
Membuat proyek studi dengan mengidekan robot
pemecah biji kacang memang tidak keren. Entah setan apa yang telah mendorongku
untuk tetap menggarapnya, namun di tengah-tengah saat sang setan telah kelewat
sukses menghipnotisku, tiba-tiba saja musuh sang setan datang dan memaksaku
untuk menghentikan garapan yang telah menyita banyak waktu, tenaga dan
pikiranku. Mungkin sang setan memang
harus lebih giat belajar ilmu hipnotis lagi. Dan sumpah! Bujukan musuh sang
setan manjur banget.! Intinya, proyekku gagal. PROYEKKU GAGAL..!!!
Wait, wait, wait.! Tunggu dulu. Setelah mengetahui fakta ini, mungkin
kalian akan berpikir bahwa aku adalah anak kuliah yang bodoh, malas, dan
kerjanya hanya luntang lantung muterin kampus saban harinya. Jika iya, kalian
salah total. Sekali lagi aku tegaskan, salah total.!! Di International Senior High School Bima Nusantara yang dibanggakan
tujuh turunan itu, aku bukanlah cowok tanpa title. Yap, aku mendapat julukan Pak Mesin dari teman-teman
seangkatanku—oiya, di sekolahku ada kelas mekanika untuk ekskul. Dan setelah
kupertimbangkan, sepertinya aku memiliki cukup bakat di bidang ini. Dan, bingo.!! Itu diberikan karena
kemahiranku dalam mengutak-atik komponen-komponen mesin dalam suatu perabotan.
Mau tau sebuah fakta? Aku mendapatkan nilai A di bidang mekanika.
Ups! bukannya aku termasuk cowok yang senang pamer sana-sini. Yaah, tapi itu
memang keahlianku.
Oke, kembali ke topik awal.
Proyekku gagal. Dan ini sangat memalukan jika mengingat title-ku tadi. Yap,
mungkin yang aku butuhkan hanyalah sedikit istirahat.
Bugh..
Kuhempaskan tubuhku ke kasur dengan kasar. Dan sialnya, hal itu membuatku
menahan sakit karena ternyata aku melakukannya terlalu sungguh-sungguh. Lalu
kupejamkan mataku. Membayangkan sedang ada di Hawaii, berjemur di bawah sinar
matahari, menyanding segelas lemon tea
dingin, mendengarkan musik klasik, merasakan getaran handphone….. Heii, yang terakhir tidak termasuk dalam
kegiatan di Hawaii.!! Sontak kubuka mataku. Meratapi mimpi Hawaii yang hilang dan, ahh..!!
(lagi-lagi) getaran handphone. Akhirnya kuputuskan untuk mencari
benda-kecil-sial-si-perusak-mimpi-Hawaii itu. Dan, bingo.! Ternyata memang bergetar. Ada 2
pesan masuk. Mau aku bacakan? Oke, here
we go..
Yang pertama dari Alex. Dia itu ketua
kelompok karate. Teman akrabku.
Oiya, Alex anak kuliahan, man. Dia belajar di ITB.
Man,
gue ada pekerjaan bgus bwt lo. Ntar mlm ya, jm 7 di Indiana.
Oke, pesan dari
Alex membuatku terlihat seperti pengangguran-maniak-lowongan-kerja dan membuat
Alex seperti teman si pengangguran-maniak-lowongan-kerja yang baik hati dan
mencarikan pekerjaan. Oh well,
setidaknya tidak seperti itu. Oke, mungkin nanti malam aku akan berangkat.
Yang kedua, dari
Pak Viktor. Heh, Pak Viktor.? Dia pembina mekanika di kelas ekskul. Oh, Ups..!! jangan-jangan dia mau nagih
proyek-bujukan-setan-goblok-nggak-jago-hipnotis itu. Oh no, oh no, oh no. Sambil memejamkan mata dan komat-kamit, aku
membuka pesan dari Pak Viktor yang, isinya, sangat membingungkan dan sekaligus
melegakan.
Ryan,
bsok jm 9 mlam kmu ke ruang bpk y. Bpk punya tgas bru untuk kmu.
Yeah,
setidaknya hal ini membuatku lega. Eh, wait.
Apa maksudnya? Proyek terbaruku kan belum selesai(lebih tepatnya gagal), Pak Viktor memberiku tugas yang lain, dan dia
memintaku untuk menemuinya malam hari? Aneh.. Oh payah, apapun kayaknya
nggak ada yang bisa membuatku lega.
***
Café
Indiana, 18.44 pm
Yap,
aku datang memenuhi ajakan Alex. Setelah kupikir-pikir dan kutimang-timang, aku
juga butuh refreshing. Dan café
bukanlah tempat yang buruk. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk datang lebih
awal dari jadwal yang ditentukan Alex. Dan, bingo.! Hal ini manjur mengusir
penatku sejak siang tadi. Suasananya dingin tapi sejuk, pelayannya ramah,
makanannya pun sayang kantong anak kuliahan. Terlebih lagi air putihnya yang
gratis. Lumayan saat aku sedang benar-benar krismon. Indiana Café emang nggak
ada duanya.
Sekitar
8 menit dari jadwal sebenarnya, Alex dan kedua sohibnya—yang kalau nggak salah
namanya Martin dan Leo—muncul. (Mudah-mudahan kedua anak itu belum ganti nama.)
“Alex,
Martin, Leo..” Kusapa mereka satu per satu.
Hampir bersamaan, ketiganya menoleh padaku. (Well, setidaknya hal ini membuktikan
jika mereka belum mengganti nama mereka.)
“Cortel, bro. Jalanan macet, “ sapa Alex.
“No
problem.” sahutku singkat.
Mereka duduk di kursi samping dan
depanku. Singkat kata, kami satu meja.
“Jadi, lo nerima itu apa nggak.?” tanya
Leo. Aku mlongo.
“Itu.?” jawabku. Tetap
mlongo.
“Alex
belum cerita?” tanya Martin.
“Apaan?”
aku masih tetap mlongo.
“Jadi
gini, man..” si Alex angkat bicara. Sesaat kepalanya yang nyaris botak itu
berkerut-kerut. Kalau diperhatikan, Alex ini anaknya ajaib banget. Seingatku
dia jarang memotong atau mencukur rambutnya, bahkan belakangan aku mengetahui
jika dia sebenarnya berniat menggondrongkan si rambut. Tapi entah mengapa kutak
tau kau di mana, dari jaman nenek moyang masih pelaut sampe era transformer-pun
rambutnya ya tetep segitu-gitu aja. Dan baru-baru ini aku dengar dia sedang
memfokuskan untuk merawat dan memanjangkan mahkotanya yang nggak mirip mahkota
itu. Huehehehe. Jujur saja hal itu membuatku sedikit menahan tawa. Mau dibawa
ke dukun Jawa sampai tabib China sekalipun, aku jamin kepalanya nggak akan
punya mahkota panjang. Mengingat
hal itu, tanpa kusadari aku menyunggingkan senyum.
“Gitu deh. Lo mau kan nerima
tawarannya ? ” Sumpah ! Cuma itu yang dapat kudengar dari
mulut Alex. Kyaaaa… Tadi dia ngomong apaaa.. !!! Apa aku suruh dia ngulang
lagi ya ? Hah, gila. Kayaknya si Alex tadi cerita sampe mulutnya
berbusa-busa gitu. Masa suruh ngulang. ?!! MASA SURUH NGULAANG.. ??!!
Akhirnya dengan kikuk aku menjawab,
“Oh, yaa. Itu siih. Resikonya
nyeremin banget, Man.“ Nyeremin banget
jawaban ngawur gue. Batinku bergejolak. Whaa, Mamaaa. Bukan apa-apa. Tapi si
Alex ini termasuk tipe anak yang nggak seneng dikacangin—kayaknya aku juga.
Bayangkan, kalau dia sampai marah, lalu dia menarik kerah bajuku, melemparku ke
pojok, dan menjurusku dengan teknik-teknik karatenya. (Oke, sebenarnya Alex
tidak akan seperti itu, tapi tetap saja, dia tidak suka dikacangi!) Payah, aku nggak boleh ngelantur lagi.
Intinya, fokus!!
“Tapi gue rasa lo bisa
ngelakuinnya, Man. Simple kan. Lo ajak Sally ke prom night, buat dia ngaku kalo
dia cinta ama lo, setelah itu lo campakkin dia.” ujar Alex.
Heh,
apa dia bilang? Dia nyebut nama Sally? Sally? Sally es-a-el-el-ye? Ngajak Sally
ke prom night? Trus, terus, terus? Dicampakkin? Payah, sohibku satu ini memang minta di tonjok. Bangsat-cari-mati
mana yang berani gituin Sally?
“Wuits,
man. Gue, gue nggak berani. Angkat tangan. Lagian, urusan kalian apa terhadap Sally?
“ balasku. Jujur!
“Yah, bro. tadi kan gue
bilang..“—gue nggak dengerin, bego—“Lo tau kan. Sally itu cewek yang sok
banget. Udah banyak cowok yang patah hati gara-gara dia. Tiap kali ada cowok
yang nembak, dia jual mahal pake nggak nerima segala. Sebagai sesama kaum yang
terlantarkan,“—kurang ajar.! Memangnya sebegitu mengenaskan nasib kaum Adam—“apa
solidaritas lo nggak muncul? Gue cuma pengen buat dia ngerti gimana rasanya
ditolak, dicampakkin, dikacangin.“—Oke, sekarang Alex bercerita bak aktor
telenovela yang hendak meraih piala oscar. Aku jadi yakin kalau bakat terpendam
Alex adalah bermain peran protagonis yang ditindas-tindas pemain
antagonis.—“Intinya, kita bakal buat dia belajar. Lagian,
menurut gue, tampang lo cakep kok. Kelewat cakep malah.“—sialan!! Kenapa dia
baru menyadari hal itu.—“jadi, lo harus nerima tantangan ini.” Alex mengakhiri
cerita sambil mengusap kening. Huahahaha. Hal itu mengingatkanku dengan
mahkota-tabib-China-dukun-Jawa di kepalanya yang licin itu.
”Mmm,” aku melengkungkan bibirku ke atas. “masalahnya,
Man. Lo tau kan Sally itu siapa. Dia kayak apa. Nah, kalo gue beneran ngelakuin
apa yang lo bilang tadi, siksaan neraka jahanam bakal jadi sarapan gue tiap
harinya, bro.” Kali ini aku jujur. Sally adalah cewek ajaib di Pratista. Oke,
aku cowok dan dia cewek. Meski begitu, Sally yang ini memiliki sifat yang
arogan banget. Dia akan tidak segan-segan menghukum siapapun yang berani
main-main dengannya. Dan, oke. Aku mengakui. Aku takut—lebih tepatnya malas
berurusan dengannya.
“Please
dong, Man. Ini masalah harkat-martabat kaum kita.” Alex bener-bener gila!
“Tunggu,
man. Lo mau ngasih dia pelajaran, kenapa lo nyuruh gue? Kenapa nggak lo aja
yang maju. Abis itu, lo tau sifat sikap Sally dari siapa?” elakku. Dalam hati,
aku memendam harapan tingkat dewa supaya Alex berhenti memaksaku.
“Eee,
itu sih..” Kali ini Alex bicara dengan tersendat-sendat. Entah hanya perasaanku
atau apa, Alex terlihat berpikir keras. “Cerita Sally, Martin yang ngasih tau
gue”—Oh iya, bego. Martin kan anak Bima Nusantara juga. Bisa-bisanya aku
lupa—“Dan, tadi gue udah bilang kan. Wajah lo tuh kelewat cakep. Jadi pasti
mudah deh, bikin Sally nambatin hati ke elo.”
Oke, dalam hal ini, mungkin Alex benar. Sebenarnya
tampangku itu cakep banget lho. Sumpah! Kulitku putih, berbadan tinggi, dan aku
juga tidak gemuk-gemuk amat. (Postur itu kudapatkan dari gen ayahku.
Singkatnya, aku Indo-Jerman.) Ditambah lagi otakku yang lumayan encer.
Jarang-jarang kan, ada cowok tampang dan otak memadahi.
Ups! Sekali lagi, aku tidak suka pamer. Memang begitulah fakta bicara.
“Dan lagi, man. Anggep aja lo lagi
bayar upeti.“ tukas Alex. Heh, upeti?
“Maksud lo?“
“Masa lo lupa sih. Perjuangan gue
melawan killer bee udah kayak perjuangan
dewa tiada tara, bro.“ si Alex (lagi-lagi) mengusap sang kening.
Oh payah, keyakinanku—jika lambat laun hal ini akan
menyusahkanku—benar-benar terjadi.
Begini, akan aku ceritakan sedikit yang Alex maksud sebagai
perjuangan-dewa-tiada-tara. Sekitar lima hari yang lalu, pada siang hari yang
cantik, dan langit berhiaskan awan-awan unik, yang mana merupakan jadwal kencan
dengan pacarku yang nyentrik, tiba-tiba saja pak Agus mengirimi sebuah pesan
kematian padaku. (Well, dengan begini
pak Agus akan terdengar seperti malaikat pencabut nyawa.)
Ryan,
10 menit lagi tmui bpk di kantin.
Heh, sontak saja itu merupakan pesan
kematian untukku. Masalahnya bukan pak Agus, melainkan pacarku yang nyentrik
itu. Kawan, jangan salah dulu. Nyentrik yang aku maksudkan di sini adalah
killer arogan sampe mati—untuk itu Alex memanggilnya killer bee. Aku juga sedikit kebingungan menerima fakta kalau aku
memiliki pacar yang begitu nyentrik. Dalam kasus ini, aku tidak mungkin
membatalkan kencanku. TIDAK MUNGKIN MEMBATALKAN KENCANKU..!! Yah, bagai menemui
simalakama, dan didorong rasa berbakti yang tinggi pada guru, aku memutuskan
untuk menemui pak Agus. Dan sebagai gantinya, menyuruh Alex untuk menemui killer bee—dan aku meyakinkannya untuk
membayar upeti. Dan sekarang, Alex menagih upetinya.
“Oke. Gue bayar tuh upeti. Puas..“
Aku benar-benar di ujung tanduk kemepetan.
“Wohoo, gitu donk man.“ teriak Alex,
puas..
Gitu
donk keningnya peang. Hal ini sama dengan menggali lubang kuburku sendiri.
Bagaimana tidak.? Mungkin kalian akan berpikir hal yang sama jika mengetahui
askadimegaX sang Sally. (X = apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan
bagaimana) Usaha terakhir yang sangat mungkin untuk aku lakukan adalah berdoa
agar Tuhan menyayangiku. Aaarrgh...
Pratista Machine, Ruang Guru Viktor, keesokan harinya
20.44 WIB..
“Kamu tau kan, Ryan. Tahun lalu,
kamu mendapatkan nilai paling baik di bidang mekanika. Nilai A+ untuk pelajaran
ini. Tentu ini adalah bibit intelegen yang harus dikembangkan selagi masih
tunas, dan karena Bapak adalah salah satu dosen dalam bidang ini, maka Bapak
akan, bla bla bla..“
Beri aku waktu untuk menjelaskan.
Karena kemarin aku mendapatkan wahyu dari Guru ini, jadi lah sekarang aku
berada di ruangannya. Sumpah.!! Satu hal yang selalu mengganggu pikiranku. Jika
hanya untuk mengucapkan “Ryan cepat selesaikan tugas kamu“ aku bertaruh hal ini
tidak akan menyita hampir tiga puluh menit. Tapi, kenapa Pak Viktor selalu
begini? Kenapa dia selalu lebih dari tiga puluh menit.?!! Kenapa dia selalu
tidak langsung to the point..??!!
Kenapa selalu aku yang harus mendengarkan.??!!
Apa ini yang namanya cinta.?!!
Ehm, oke. Aku tau hal di atas
sangatlah keluar dari topik kita saat ini. Intinya dosen satu ini sangatlah
tidak efektif dalam menyampaikan sesuatu. Sampai sekarang pun aku masih heran,
kenapa orang ajaib-nan-boros-kata-kata seperti Pak Viktor dapat menjadi guru.??
Dan parahnya, aku sama sekali tidak mendengar apa yang barusan dia katakan. Aku
sadar. Aku dalam masalah..!!!
“Jadi begitu Ryan. Apa kamu
setuju.?“
Benar kan. AKU DALAM MASALAH.!!
“E...e, iya sebenarnya saya terserah
bapak aja sih.“—terserah bapak aja, karena saya yang tidak tau apa-apa.
Hwaa—“Saya kapan pun siap kok, Pak“—saya siap untuk menjadi siswa malang yang
menderita karena tidak mendengarkan. Hwaa, Mamaaa.—“Asal kan waktunya selagi
saya lenggang dan tidak repot. Ehehee..“—jangan pas saya lagi hang out bareng Alex, ngecengin cewek di
cafetaria, jangan pas lagi Sweet Sunday.
“Ohohohoho. Bagus Ryan. Ini tidak
akan sulit.“
Mati aku. Apa yang akan
dilakukannya..!!!
“Silakan temui dia di ruang
sebelah.“ ujar Pak Viktor.
Hahh.?? Dia bilang apa.? Menemui
malaikat Izrail maksudnya.?? (sumpah gue ngaco banget..)
“Bbb, baik, Pak.“ Aku melenggang
semampai. Melangkah menuju ruang yang Pak Viktor maksud. Sesampainya di ruang
yang dimaksud, aku tercengang. Bukan malaikat izrail, bukan juga segel
fuinjutsu milik yondaime hokage, bukan pula hal yang lain-lain. Namun yang aku
lihat di balik keremangan malam adalah siluet tubuh langsing yang
membelakangiku, dan aku yakin dia perempuan. Satu pertanyaan yang terlintas, who is she?
“Sally, ini orangnya.“ Guru kita
angkat bicara. Dan pemilik-siluet-tubuh-indah-yang-dipanggil-Sally itu
membalikkan badan.
“Dia.??“ , Sally-cantik-bersiluet-indah
itu berdecak saat menyadari kehadiranku. Wehh, apa maksudnya.
“Kenalkan, dia Ryan Bownn. Dia siswa
bidang mekanika terbaik di Pratista ini.“ puji Pak Viktor.
“Sally Deww.“ Sally-bernama-mirip-embun(Dew)
ini mengulurkan tangannya padaku. Wait,
dari tadi aku sama sekali tidak mengerti dengan sikon saat ini. Ada apa, kenapa
dan bagaimana.??
“Ryan.“ Akhirnya aku sambut tangan Sally.
Eh, tunggu. Sally.? Sally, Sal, ly.. Hah??? Dia??!!
“Jadi, lo tentor gue?“ balas Sally.
“Hahh.? Tentor.?“ pekikku. Tentor.??
Sally.? Tentor Sally?? Sally Tentor??
Oh, wait. Ini tidak buruk, bukan. Dan hei,
momennya sangat tepat. Ehm. Yaah, Tuhan memang menyayangiku.






Super sekali, dua tugas satu aksi
BalasHapus