Minggu, 06 Desember 2015

Essai : Harapan Baru Bahari Nusantara



            Sebagai negara maritim dan kepulauan, Indonesia sarat akan berbagai sumber daya alam pada aspek bahari. Bukanlah hal baru apabila banyak wisatawan mancanegara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk sekadar menikmati pesona hayati yang disuguhkan. Pada saat ini, sektor pariwisata Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam penambahan devisa negara. Namun, terdapat sebuah ironi pahit yang terabaikan dari pusat perhatian massa. Terlepas dari sektor pariwisata yang merajai pengolahan kekayaan alam Indonesia, kesadaran dalam distribusi dan pemanfaatan sumber daya pada negara kita masih terbilang rendah. Satu contoh realistis dan sangat mudah dijumpai adalah sektor perekonomian laut Indonesia. Sebuah survey di Jepang melaporkan bahwa terdapat sekitar 7.000 nelayan di Indonesia yang masih menggunakan peralatan tradisional pada saat melaut. Di sinilah batu hambatan terbesar yang menghambat perekonomian bahari negara kita. Rendahnya apresiasi dari pemerintah menyebabkan para nelayan kesulitan dalam mendistribusikan hasil tangkapan mereka secara langsung. Fakta lainnya bahwa pemerintah menarik retribusi dari tiap nelayan. Lalu, akankah hal ini tetap berlanjut?

            Sebuah harapan potensial muncul untuk mengentaskan permasalah para nelayan Indonesia, sekaligus dinilai dapat mengoptimalkan kekayaan laut Indonesia. Bapak Jokowi Dodo, presiden baru RI yang dilantik pada tahun 2014, sebagai salah satu program kabinetnya menyatakan gagasan untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Letak strategis Indonesia, terletak di antara dua samudra dan dua benua serta menjadi jakur transit lalu-lintas dunia, menjadi dongkrak utama dalam mewujudkan gagasan tersebut. Lalu, akankah gagasan cemerlang dari Presiden RI mampu menjadi harapan baru bagi permasalahan yang telah lama mengakar pada masyarakat?
            Gagasan Poros Maritim secara garis besar dapat dimaknai sebagai upaya memaksimalkan potensi laut Indonesia untuk kemakmuran bangsa. Luas perairan laut Indonesia saat ini adalah 3.257.483 Km persegi. Jika digabung dengan Zona Ekonomi Eksklusif, luas perairan Indonesia mencapai 7,9 juta Km persegi. Luas wilayah tersebut mutlak dapat dimanfaatkan secara maksimal, baik di bidang produksi maupun jasa. Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebutkan bahwa kandungan laut Indonesia memiliki 8.500 spesies ikan, 650 di antaranya jenis ikan hias laut (dan kemungkinan besar masih bisa ditemukan jenis ikan hias baru) dan 140 spesies endemik ikan laut. Akan sangat disayangkan apabila limpahan sumber daya ibu pertiwi tidak diacuhkan oleh masyarakatnya. Perlunya revolusi sistem menjadi kunci utama dari permasalahan. Kesulitan yang dihadapi para nelayan dikarenakan transportasi yang kurang mendukung aktivitas mereka. Selama ini mayoritas pelabuhan di Indonesia belum mampu disandari kapal-kapal berukuran besar. Akibatnya, biaya distribusi logistik menjadi mahal. Tidak adanya bandara di sekitar area pantai juga turut menyusahkan nelayan untuk langsung mengekspor hasil lautnya. Menanggapi hal ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastusi, mengutarakan pendapatnya tentang pemerataan pembangunan bandara pada daerah pesisir sehingga akan memungkinkan para nelayan untuk langsung mendistribusikan dan menikmati hasil jerih payah mereka. Imbauan pada pemerintah untuk menghentikan penarikan retribusi juga disebutkan oleh menteri baru Kabinet Gotong Royong ini.
            Di sisi lain, untuk menjadikan Indonesia sebagai poros maritime dunia diperlukan penegakan hukum. Pemerintahan baru bertekad akan memberantas kasus pencurian ikan oleh kapal asing di perairan nusantara. Presiden Jokowi menyebut kurang lebih ada 5.000-7.000 kapal yang beredar di perairan Indonesia sekitar 90 persennya ilegal. Imbauan bapak presiden juga diberikan kepada polisi air, KSAL, Kementerian Kelautan Perikanan (KKP), dan kepala daerah untuk memberikan sikap tegas pada setiap kasus pelanggarakn hokum laut yang terjadi di wilayah perairan NKRI.
            Langkah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjianti yang didukung TNI AL untuk menenggelamkan kapal pencuri ikan menjadi secercah harapan untuk mewujudkan ide poros maritim. Langkah wanita asal Pangadaraan ini dalam menjalankan amanat undang-undang patut diacungi jempol mengingat potensi sektor kelautan Indonesia yang dicuri kapal nelayan asing cukup fantastis.
Sebagai negara maritim, potensi bisnis sektor kelautan Indonesia diyakini sangat besar dan disebut-sebut bisa mencapai Rp 3.000 triliun per tahun. Namun sayangnya hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
KKP mengkalim, tahun 2014 ini, ekonomi untuk sektor perikanan saja diperkirakan mencapai Rp 337 triliun. Angka ini jauh meningkat dibanding 10 tahun lalu yang nilai aktivitas ekonominya masih di bawah Rp 50 triliun dengan kenaikan rata-rata Rp 4,4 triliun hingga Rp 7,4 triliun per tahun.
Berdasarkan laporan McKinsey Internasional, pada 2030 peluang bisnis di Indonesia diperkirakan melonjak hingga US$ 1,8 triliun. Selama ini, sebut Jokowi, Indonesia telah rugi Rp 300 triliun karena tidak mengawasi kekayaan laut. Terlepas dari berbagai persoalan, langkah kongkret konsep poros maritim sebagai bagian implementasi pembangunan adalah dibuktikan dengan rencana PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) membangun 100 kampung melayan digital pada semester I-2015. Dengan dukungan kabel serap optik dan akses internet broadband, nelayan dapat mengetahui informasi cuaca, ketinggian air laut, iklim harian hingga harga ikan. Informasi yang disediakan dalam teknologi cloud dalam aplikasi data ini juga mencakup data kapal, izin kapal, anak buah kapal (ABK) dan jumlah kapal yang berlayar secara online.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan Indonesia dapat mengoptimalkan kekuatan laut dan menjadi negara potensial untuk poros maritim dunia.


0 komentar:

Posting Komentar