Senin, 30 April 2012

Part 2 : Seorang Sally


            Yo Ho. Biar aku jelaskan sedikit mengenai bagianku. Namaku Sally Deww. Apa.? Nama belakangku yang terdengar seperti embun.?  Yap, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Nama Deww kuperoleh dari ayahku. Tentu saja. Ayahku, Johnny Deww adalah seorang pengusaha asing berdarah Jerman yang menikah dengan ibuku, Kiara Deww orang Indonesia. Jadi singkatnya, seorang Sally Deww ini blasteran Indo-Jerman.
Tentang nama embun, aku tidak tahu pasti apa penyebab nama belakang keluargaku yang terdengar mirip embun ini. Namun belakangan, aku mulai berpikir jika sebenarnya nama Deww hanya akal-akalan ayahku saja saat menikah dengan ibu. Kalian tau kenapa aku berpikir seperti itu.? Begini. Setahuku, ayah adalah seorang pecinta suasana pagi. Hal ini aku ketahui dari kebiasaan ayahku yang selalu berhubungan dengan pagi hari. Salah satu contoh: Ayah sering bangun pagi—sekitar jam 03.45, lalu cuci muka dan dilanjutkan dengan berkeliaran—atau mungkin berjalan—di sekitar kompleks perumahan sambil membawa kamera culun yang kabarnya itu adalah hadiah ulang tahun dari pacar pertama ayah. Well, mungkin ini sedikit konyol. Saat sang surya belum terbit, ayah melakukan survey di beberapa tempat bertanaman rindang dan berembun yang ia pikir indah untuk dijuluki ciptaan Tuhan yang agung. Yaa, ini baru permulaan. Beberapa saat kemudian, saat matahari menyorotkan sinar, embun yang berada di daun-daun di mana tempat ayah berada akan terlihat berkilau dan keemas-emasan. Dan bingo! Inilah bagian terpenting. Secepat kecepatan cahaya, ayah akan berjongkok-jongkok, meliuk-liuk, merangkak-rangkak sambil berpose siaga untuk memotret embun-sinar-marahari-warna-emas-kilau-kilau yang ditunggu-tunggunya itu. Apa yang dia harapkan.? Well, setidaknya itulah yang aku tidak tau. Dan foto-foto yang diambilnya itu semua akan berakhir di langit-langit kamar ayah. Dari sinilah, aku menyadari bahwa ayahku sangat mencintai embun. Oh ya, dan satu hal lagi. Jika kalian berpikir kalau nama Sally Deww ini payah, hal ini tidak seberapa kawan. Begini, menurut cerita dari ibu, dulu waktu aku lahir, ayah sempat terpikir untuk memberiku nama Embun Senja. Payah, aku tidak tau setan apa yang sedang memenuhi kepalanya saat itu sehingga dapat membuatnya berpikir sepayah ini. Bukan apa-apa. Bayangkan jika nama itu benar-benar aku gunakan. Mungkin teman-temanku akan memanggilku Bunbun, Eem, Sesen, atau apalah. Parahnya lagi, jika mereka memanggilku Jaja. Payah, akan kupastikan aku akan ganti nama secepatnya jika hal itu benar-benar terjadi. Oke, tak usah membahas itu lagi, kumohon.! Dan lagi, aku menyadari kalau ini sangatlah keluar dari topik awal. Biar aku luruskan. Namaku Sally Deww, dan kini aku dalam masalah.
Kalian pernah mendengar tentang istilah kalau penampilan cewek akan terbalik antara luar dan dalamnya.? Sial!! Itulah yang terjadi padaku. Oh payah, jangan membuatku menjelaskan hal ini. Begini, akan aku beri sedikit clue. Aku cewek Indo-Jerman, tentu saja tampangku sangatlah di atas rata-rata—well, inilah yang bisa aku banggakan. Bodyku proporsional, tinggi 179 cm, hidungku mancung dan yang lain lain. Oh ya, rambutku juga lumayan indah. Bergelombang—aku tegaskan, bukan keriting!!—dan berwarna kecoklatan dengan panjang sepunggung. Namun semua ini hanyalah tampang luarku belaka. Seperti yang aku jelaskan tadi. Tentang perbandingan terbalik. Mm, begini. Oke, aku harus mengakuinya bahwa aku tidak terlalu pandai untuk bidang akademik saat aku kuliah. Aku kuliah di Bima Nusantara Machine yang sialnya sama sekali tidak terdapat setitik pun bakatku di sana. Ohh, wait! Setelah kalian mengetahui tentang ketidakterlalu pandaiku, jangan pernah kalian memiliki pemikiran bahwa aku bodoh!! Sialan.! Seharusnya aku menyadarinya sejak awal jika kalian akan tetap mengiranya.!! Biarkan aku pamer sedikit. Meskipun aku tidak terlalu pandai—jangan pernah sebut aku bodoh!!—dalam mekanika, tapi ketahuilah. Seorang Sally Deww ini seorang pianis lho. Yop, meski tidak terkenal layaknya Ludwig Van Beethoven, Johann Sebastian Bach, ataupun Antonio Vivaldi, tapi aku dapat memainkan benda hitam putih itu dengan baik. Aku bisa memainkan Air On G String milik Johann Sebastian Bach dengan baik. Gerakan 2 orchestral suite nomor 3 dalam D mayor. Tuh kan, sudah kubilang aku lumayan handal dalam hal ini. Dan lagi, aku memiliki kebiasaan belajar secara otodidak. Aku lebih senang mengetahui suatu hal baru saat aku melakukan suatu kegiatan yang tak pernah kumaksudkan sebagai belajar. Aku senang membaca komik Detektif Conan. Inilah yang aku maksud. Dari komik ini, aku dapat menemukan banyak hal yang tak pernah kudapatkan di Bima Nusantara, aku bisa mengasah penalaran otak, mengetahui banyak trik-trik dalam pembunuhan, dan masih banyak lagi. Intinya, aku sangat menyukai komik ini. Yep, Aoyama Gosho memang tak pernah terduakan. Bahkan, akibat dari saking cintanya, pernah terlintas di benakku untuk menjadi seorang detektif seperti Shinichi Kudou atau Edogawa Conan. Dari hal itulah, saat itu aku sangat maniak terhadap kasus. Sedikit-sedikit selalu aku anggap serius. Saat Rena—dia teman satu kelasku—kehilangan ponselnya, aku sangat menggebu-gebu untuk membantunya mencari si ponsel yang akibatnya membuatku menghujani Rena dengan seribu pertanyaan investigasi. Namun konyolnya Rena, ternyata dia hanya lupa bahwa dia meninggalkan ponselnya di rumah hari itu. Oh, ini sudah terlalu jauh dari topik. Hmm, hei. Apa kalian menyadari sesuatu? Kenapa ya, aku selalu saja menceritakan hal-hal yang tidak penting seperti ini? Dan konyolnya, aku telah melakukannya dua kali berturut-turut. Oh oke, baiklah aku akan berjanji hal ini takkan terulang lagi. Ayolah Sally, sudahi main-mainmu dan lekas lakukan sesuatu.
            Saat ini, di hadapanku, berdiri seorang bernama Ryan. Dia yang akan menjadi tentorku. Apalagi kalau bukan mekanika. Saat mendengar jika Ryan ini mendapat nilai A di bidang sial itu, aku sempat menganga karenanya. Sangat berbeda dengan nilaiku yang tertulis D minus. Sebenarnya ayah yang menyuruhku menjalani belajar bersama Ryan ini. Oiya, aku mengikuti ekskul mekanika di Bima Nusantara, sekolahku yang keren. Hehe. Awalnya aku tidak enak juga sih sama Ryan. Yang kumaksud adalah waktu diadakannya untuk belajar. Malam dari jam 7 sampai 10. Oh, payah. Aku sudah berjanji tidak akan ngelantur lagi. Oke. Akan aku sudahi. Toh, apa pedulinya aku dengan Ryan. Yah, inilah sifatku. Arogan, kasar, sedikit brutal, tapi cukup pengertian. Huehehe.
            “Jadi, Ryan. Sekarang lo ikut gue.”
            “Heh.?? Gue? Ke mana? Harus?” Ryan ini kelihatan culun banget deh.
            “Lo tentor gue kan? Belajarnya nggak di sini. Tapi di rumah gue.” aku menjelaskan sedikit kepadanya. Hei, apa pak Viktor tidak memberi tahunya sejak awal?!
            “Ooo itu. Iy, iya gue tau. Jadi di rumah lo?” Ryan-culun ini bertanya lagi. Sumpah. Ryan-peraih-nilai-A-mekanika terlihat goblok banget saat ini.
            Tanpa menghiraukan pertanyaan gobloknya, aku melenggang menuju pintu keluar.
            “Lo bisa nyetir kan? Nih kuncinya. Pojok kanan di bagian depan basement. Porsche Carera.” sambil membelakanginya, kulempar kunci mobilku pada Ryan. Dapat kudengar suara langkah kakinya yang mendadak. Menandakan dia berusaha meraih kunci mobil itu.
            “Gue tunggu di toko buku depan sana. Kalo lo udah keluar, gue ada di bagian komik.” lanjutku seraya berjalan meninggalkan Ryan.
            Payah, ternyata bener tentang seperti apa Sally dari yang gue denger.” terdengar suara Ryan di belakangku. Mengetahuinya, membuatku tersenyum tipis.
***
            “Sally? Lo udah selesai?” terdengar suara Ryan di belakang disertai dengan tepukan di pundakku. Payah, hal ini membuatku kaget sampai berjingkat.
            Pluk.. Kuayunkan komik di tanganku mengenai kepala Ryan.
            “Bego. Lelet banget sih. Gue udah selesai. Sekarang pulang.” balasku sambil melangkah menjauhi Ryan. Well, entah hanya perasaanku saja atau memang fakta. Aku terkesan sangat semena-mena kepada tentor baruku ini. Tapi, yaah. Bukan urusanku juga. Biarlah, itu konsekuensinya menjadi tentor Sally. Ohohohoho.
            “Eh, Sally.” Ryan memanggilku. Aku pun menoleh.
            “What? Lo mau ke toilet? Tuh di sana.” aku menunjuk papan bertuliskan TOILET.
            “Eh, bukan. Gue mau liat-liat beberapa buku juga. Lo nggak kebeatan nunggu kan? Eh, tapi kalo lo nggak mau, no problem kok. Kita bisa langsung pulang. Tapi sebenernya guu..”
            “Lo mau cari apa? Biar gue bantu. Tugas pertama lo sebagai tentor belum terlaksana, kan. Cepet.!!” aku mengakhiri ucapan bertele-tele yang keluar dari mulut Ryan.
            “Eh, jadi.. lo.. ma, mau..”
            “Ryan yang bego, lo mau cari apa? Jangan buat mood gue berubah, honey.” (lagi-lagi) aku memotong perkataan Ryan. Anak ini bener-bener minta ditonjok. Timbul keraguan untuk percaya apakah memang dia penyandang Master of Mechanical di Bima Nusantara. Lha wong gobloknya nggak ketulungan.
            “Yep, oke. Gue tau lo emang baik. Gue mau cari buku komponen mesin. Nah, kalo diliat dari komik yang lagi lo pegang, gue bisa nyimpulin kalo lo penggemar cerita misteri. Jadi tolong pilihin novel, inget novel yaa. Apa aja deh, yang bagus, yang misteri. Itung-itung buat refreshing gue.”
            Wohaa. Kali ini Ryan berbicara secepat supersonic max power. Dan jujur saja. Hal kecil ini membuatku yakin kalau bakat terpendam anak ini adalah menjadi karyawan sales promosi yang luntang-lantung di pintu mall. Ups. Well, aku ngelantur lagi. Gomenasai. Eh, ngomong-ngomong, bener juga. Komik yang tengah kupegang adalah Detective Conan vol.60, 61, 62. Hmm, tidak kusangka Ryan memperhatikan hal ini.
            Got it.” ucapku. Singkat.
            Ryan ngacir entah kemana. Cepet juga jalannya. Hm, jadi, harus kuambilkan novel misteri seperti apa anak itu? Berbicara misteri, aku teringat Aoyama Gosho. Sempat terpikir untukku mengambilkan beberapa komik Conan yang belum aku punya. Lumayan untukku bisa meminjamnya. Yaah, tapi berhubung tadi Ryan bilang kalau dia memesan novel—bahkan sampai diulang dua kali. Sial! Dia pikir pendengaranku separah itu.—alhasil kuurungkanlah niat-cerdik-nan-licik itu. Setelah dipikir-pikir, aku teringat dengan tokoh detektif favorit Aoyama. Sherlock Holmes. Tentu saja. Lagipula, aku juga belum pernah membaca serialnya. Dan sepertinya cukup menarik. Akhirnya kuputuskan utnuk memilihkan Ryan novel seri pertama dari Sherlock Holmes. Yosh, Ryan. Sudah dapat.
***
            “Ini bagus?”
            “Tentu. A Study In Scarlet. Seri pertama Sherlock Holmes. Bagus, bego. Lo nggak bakal nyesel. Lo udah dapet kan? Sekarang mood gue nggak akan berbaik hati lagi. Pulang!”
            Sial. Ryan lama banget waktu mencari buku. Jujur saja, entah mengapa aku merasa sangat lelah dengan hal ini. Well, aku tau. Aku tak akan ngelantur lagi. Aku benar-benar menginginkan pulang secepatnya.
Waktu di dalam mobil dalam perjalanan..
            “Ngomong-ngomong, gue nggak nyangka lho. Ternyata lo suka juga baca komik.” Ryan berbicara membuka obrolan saat perjalanan pulang. Yaa, memang sekitar 5 menit pertama aku hanya diam saja di kursi depan. Hal ini kulakukan karena aku sangat lelah. Sungguh.
            “Biasa aja. Gue suka komik dari kecil.” sahutku tanpa menoleh ke arah Ryan.
            “Ooh.” balasnya.
            Lima menit berikutnya, hanya diam.
            “Lo diem aja. Kenapa?” (lagi-lagi) Ryan memulai obrolan.
            “Gue capek.” (lagi-lagi juga) aku bicara tanpa menoleh kepada Ryan.
            “Gara-gara nungguin gue? Sorry deh. Tapi kan tadi gue udah bilang, kalo lo keberatan kita bisa langsung pulang. Aduh, Sally. Kalo lo gini, gue kan jaa..”
            “Sssst.. Udah-udah. Lo mau gue…”
            Aku tau. Kalian bingung dengan percakapan di atas. Begini deskripsinya. Ryan-si-cowok-bego-suka-ngoceh memulai lagi perkataan panjangnya padaku. Entah mengapa aku sangat terganggu dengan hal itu. Sontak saja aku menghadap ke arah Ryan dan mengacungkan telunjuk kanan di depan bibirnya sambil berkata “Sssst.. Udah-udah. Lo mau gue…” Dan Sial! Entah sihir apa yang telah mengenaiku, aku menghentikan perkataanku. Dan saat itu bisa kurasakan Ryan perlahan menghentikan laju mobil. Ryan menghadap kearahku. Dia memegang jari kelingking kananku dengan tangan kanannya. Tanganku yang telunjuknya mendarat di bibir Ryan seakan beku di momen itu. Mata kami beradu. Ryan menatapku dalam-dalam. Dan sepertinya aku juga melakukan hal yang sama. Dan saat itu, di antara remang-remang malam, aku menyadari sesuatu dari Ryan. Oh Tuhan. Ryan yang ini ternyata ganteng banget. Banget!! Rambutnya yang lurus kaku sebagian menjuntai ke depan. Hidungnya yang macung, kulitnya ternyata cukup bersih. Bibirnya yang tipis terlihat selalu basah—aku tidak tahu apakah ini efek dari liurnya atau yang lain, tapi yang jelas, hal kecil ini membuat Ryan terlihat sangat sexy—dan berwarna merah. Oh, dan lagi, bola matanya. Berwarna biru kehitam-hitaman. Hei, mungkinkah? Mungkinkah dia sepertiku? Blasteran? Yea, kapan-kapan akan aku tanyakan.
            Sekitar sepuluh detik—wohaa, lama juga—kami terdiam dalam posisi yang sama seperti sepuluh detik yang lalu. Dan saat memasuki detik ke-11, aku mulai menyadari sesuatu mengganggu otakku. Segera aku memalingkan pandangan dan menarik tanganku dari Ryan.
            “Abis nganterin gue pulang, lo juga pulang. Tugas pertama lo jadi tentor dilakuin besok aja. Malem ini gue capek banget. Lo bisa bawa mobil gue.” aku berbicara tanpa menoleh pada Ryan. Eh, aku mulai menyadari sesuatu. Mungkin berbicara tanpa menatap orang yang sedang diajak berbicara adalah salah satu kebiasanku. Yep, akan kuputuskan untuk merubahnya. Aku tau, ini tidak etis kan?
            “Oke.” jawab Ryan. Singkat. Tumben?
            Setelah itu, sisa perjalanan menuju rumahku kami habiskan dengan saling diam-diaman. Berkutat dengan pikiran masing-masing. Sesekali aku menoleh sedikit ke arah Ryan. Dapat kulihat air mukanya yang sangat berbeda. Dia terlihat tegang. Yaa, aku tau. Terjebak dalam situasi seperti ini sangatlah membosankan. Sangat berbeda dari Sally yang biasanya selalu membuat kegaduhan di setiap belahan bumi yang dipijaknya. Tapi syukurlah, hal-membosankan ini segera berakhir. Aku sudah dapat melihat kompleks perumahan tempat tinggalku di depan. Dan bingo! Itu memang rumahku.
            Blep, bakk. Aku membuka lalu menutup pintu mobil dengan cepat. Tanpa berkata apapun kepada Ryan, aku segera berjalan menuju pintu masuk rumah. Melihat hal itu, sepertinya Ryan sedikit terusik. Dari belakang, dapat kudengar suara blep, bakk yang tandanya dia ikut turun.
            “Sally, tunggu.” itu suara Ryan.
            Saat kuputuskan untuk membalik badan dan menghampiri Ryan, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu bergoyang-goyang. Oh, itu kakiku. Hei, kenapa dengan kakiku? Dan lagi, mata. Mataku terasa penuh dengan bintik-bintik mejikuhibiniu. Sial! Kenapa dengan kaki dan mataku?
            Tanpa mempedulikan mata dan kaki aneh, aku berjalan mendekati Ryan. Namun baru satu langkah, aku merasa seperti terpeleset. Dan setelah itu, semuanya menjadi gelap.

0 komentar:

Posting Komentar