Yo Ho. Biar aku jelaskan sedikit
mengenai bagianku. Namaku Sally Deww. Apa.? Nama belakangku yang terdengar
seperti embun.? Yap, beri aku kesempatan
untuk menjelaskan. Nama Deww kuperoleh dari ayahku. Tentu saja. Ayahku, Johnny
Deww adalah seorang pengusaha asing berdarah Jerman yang menikah dengan ibuku,
Kiara Deww orang Indonesia. Jadi singkatnya, seorang Sally Deww ini blasteran
Indo-Jerman.
Tentang nama embun, aku tidak tahu pasti apa penyebab nama
belakang keluargaku yang terdengar mirip embun ini. Namun belakangan, aku mulai
berpikir jika sebenarnya nama Deww hanya akal-akalan ayahku saja saat menikah
dengan ibu. Kalian tau kenapa aku berpikir seperti itu.? Begini. Setahuku, ayah
adalah seorang pecinta suasana pagi. Hal ini aku ketahui dari kebiasaan ayahku
yang selalu berhubungan dengan pagi hari. Salah satu contoh: Ayah sering bangun
pagi—sekitar jam 03.45, lalu cuci muka dan dilanjutkan dengan berkeliaran—atau
mungkin berjalan—di sekitar kompleks perumahan sambil membawa kamera culun yang
kabarnya itu adalah hadiah ulang tahun dari pacar pertama ayah. Well, mungkin ini sedikit konyol. Saat
sang surya belum terbit, ayah melakukan survey di beberapa tempat bertanaman
rindang dan berembun yang ia pikir indah untuk dijuluki ciptaan Tuhan yang agung.
Yaa, ini baru permulaan. Beberapa saat kemudian, saat matahari menyorotkan
sinar, embun yang berada di daun-daun di mana tempat ayah berada akan terlihat
berkilau dan keemas-emasan. Dan bingo! Inilah
bagian terpenting. Secepat kecepatan cahaya, ayah akan berjongkok-jongkok,
meliuk-liuk, merangkak-rangkak sambil berpose siaga untuk memotret
embun-sinar-marahari-warna-emas-kilau-kilau yang ditunggu-tunggunya itu. Apa
yang dia harapkan.? Well, setidaknya
itulah yang aku tidak tau. Dan foto-foto yang diambilnya itu semua akan
berakhir di langit-langit kamar ayah. Dari sinilah, aku menyadari bahwa ayahku
sangat mencintai embun. Oh ya, dan satu hal lagi. Jika kalian berpikir kalau
nama Sally Deww ini payah, hal ini tidak seberapa kawan. Begini, menurut cerita
dari ibu, dulu waktu aku lahir, ayah sempat terpikir untuk memberiku nama Embun
Senja. Payah, aku tidak tau setan apa
yang sedang memenuhi kepalanya saat itu sehingga dapat membuatnya berpikir
sepayah ini. Bukan apa-apa. Bayangkan jika nama itu benar-benar aku gunakan.
Mungkin teman-temanku akan memanggilku Bunbun, Eem, Sesen, atau apalah.
Parahnya lagi, jika mereka memanggilku Jaja. Payah, akan kupastikan aku akan ganti nama secepatnya jika hal itu
benar-benar terjadi. Oke, tak usah membahas itu lagi, kumohon.! Dan lagi, aku
menyadari kalau ini sangatlah keluar dari topik awal. Biar aku luruskan. Namaku
Sally Deww, dan kini aku dalam masalah.
Kalian
pernah mendengar tentang istilah kalau penampilan cewek akan terbalik antara
luar dan dalamnya.? Sial!! Itulah
yang terjadi padaku. Oh payah, jangan
membuatku menjelaskan hal ini. Begini, akan aku beri sedikit clue. Aku cewek
Indo-Jerman, tentu saja tampangku sangatlah di atas rata-rata—well, inilah yang bisa aku banggakan.
Bodyku proporsional, tinggi 179 cm, hidungku mancung dan yang lain lain. Oh ya,
rambutku juga lumayan indah. Bergelombang—aku tegaskan, bukan keriting!!—dan
berwarna kecoklatan dengan panjang sepunggung. Namun semua ini hanyalah tampang
luarku belaka. Seperti yang aku jelaskan tadi. Tentang perbandingan terbalik.
Mm, begini. Oke, aku harus mengakuinya bahwa aku tidak terlalu pandai untuk
bidang akademik saat aku kuliah. Aku kuliah di Bima Nusantara Machine yang
sialnya sama sekali tidak terdapat setitik pun bakatku di sana. Ohh, wait! Setelah kalian mengetahui
tentang ketidakterlalu pandaiku, jangan pernah kalian memiliki pemikiran bahwa
aku bodoh!! Sialan.! Seharusnya aku menyadarinya sejak awal jika kalian akan
tetap mengiranya.!! Biarkan aku pamer sedikit. Meskipun aku tidak terlalu pandai—jangan
pernah sebut aku bodoh!!—dalam mekanika, tapi ketahuilah. Seorang Sally Deww
ini seorang pianis lho. Yop, meski tidak terkenal layaknya Ludwig Van Beethoven, Johann Sebastian Bach, ataupun Antonio Vivaldi, tapi aku dapat
memainkan benda hitam putih itu dengan baik. Aku bisa memainkan Air On G String
milik Johann Sebastian Bach dengan baik. Gerakan
2 orchestral suite nomor 3 dalam D mayor. Tuh kan, sudah kubilang aku lumayan
handal dalam hal ini. Dan lagi, aku memiliki kebiasaan belajar secara otodidak.
Aku lebih senang mengetahui suatu hal baru saat aku melakukan suatu kegiatan
yang tak pernah kumaksudkan sebagai belajar. Aku senang membaca komik Detektif
Conan. Inilah yang aku maksud. Dari komik ini, aku dapat menemukan banyak hal
yang tak pernah kudapatkan di Bima Nusantara, aku bisa mengasah penalaran otak,
mengetahui banyak trik-trik dalam pembunuhan, dan masih banyak lagi. Intinya,
aku sangat menyukai komik ini. Yep, Aoyama Gosho memang tak pernah terduakan.
Bahkan, akibat dari saking cintanya, pernah terlintas di benakku untuk menjadi
seorang detektif seperti Shinichi Kudou atau Edogawa Conan. Dari hal itulah,
saat itu aku sangat maniak terhadap kasus. Sedikit-sedikit selalu aku anggap
serius. Saat Rena—dia teman satu kelasku—kehilangan ponselnya, aku sangat
menggebu-gebu untuk membantunya mencari si ponsel yang akibatnya membuatku
menghujani Rena dengan seribu pertanyaan investigasi. Namun konyolnya Rena,
ternyata dia hanya lupa bahwa dia meninggalkan ponselnya di rumah hari itu. Oh, ini sudah terlalu jauh dari topik.
Hmm, hei. Apa kalian menyadari sesuatu? Kenapa ya, aku selalu saja menceritakan
hal-hal yang tidak penting seperti ini? Dan konyolnya, aku telah melakukannya
dua kali berturut-turut. Oh oke, baiklah aku akan berjanji hal ini takkan
terulang lagi. Ayolah Sally, sudahi main-mainmu dan lekas lakukan sesuatu.
Saat ini, di hadapanku, berdiri
seorang bernama Ryan. Dia yang akan menjadi tentorku. Apalagi kalau bukan
mekanika. Saat mendengar jika Ryan ini mendapat nilai A di bidang sial itu, aku
sempat menganga karenanya. Sangat berbeda dengan nilaiku yang tertulis D minus.
Sebenarnya ayah yang menyuruhku menjalani belajar bersama Ryan ini. Oiya, aku
mengikuti ekskul mekanika di Bima Nusantara, sekolahku yang keren. Hehe. Awalnya
aku tidak enak juga sih sama Ryan. Yang kumaksud adalah waktu diadakannya untuk
belajar. Malam dari jam 7 sampai 10. Oh, payah.
Aku sudah berjanji tidak akan ngelantur lagi. Oke. Akan aku sudahi. Toh,
apa pedulinya aku dengan Ryan. Yah, inilah sifatku. Arogan, kasar, sedikit
brutal, tapi cukup pengertian. Huehehe.
“Jadi, Ryan. Sekarang lo ikut gue.”
“Heh.?? Gue? Ke mana? Harus?” Ryan
ini kelihatan culun banget deh.
“Lo tentor gue kan? Belajarnya nggak
di sini. Tapi di rumah gue.” aku menjelaskan sedikit kepadanya. Hei, apa pak
Viktor tidak memberi tahunya sejak awal?!
“Ooo itu. Iy, iya gue tau. Jadi di
rumah lo?” Ryan-culun ini bertanya lagi. Sumpah. Ryan-peraih-nilai-A-mekanika
terlihat goblok banget saat ini.
Tanpa menghiraukan pertanyaan
gobloknya, aku melenggang menuju pintu keluar.
“Lo bisa nyetir kan? Nih kuncinya. Pojok
kanan di bagian depan basement. Porsche Carera.” sambil membelakanginya,
kulempar kunci mobilku pada Ryan. Dapat kudengar suara langkah kakinya yang
mendadak. Menandakan dia berusaha meraih kunci mobil itu.
“Gue tunggu di toko buku depan sana.
Kalo lo udah keluar, gue ada di bagian komik.” lanjutku seraya berjalan
meninggalkan Ryan.
“Payah,
ternyata bener tentang seperti apa Sally dari yang gue denger.” terdengar suara
Ryan di belakangku. Mengetahuinya, membuatku tersenyum tipis.
***
“Sally? Lo udah selesai?” terdengar
suara Ryan di belakang disertai dengan tepukan di pundakku. Payah, hal ini membuatku kaget sampai
berjingkat.
Pluk..
Kuayunkan komik di tanganku mengenai kepala Ryan.
“Bego. Lelet banget sih. Gue udah
selesai. Sekarang pulang.” balasku sambil melangkah menjauhi Ryan. Well, entah hanya perasaanku saja atau
memang fakta. Aku terkesan sangat semena-mena kepada tentor baruku ini. Tapi,
yaah. Bukan urusanku juga. Biarlah, itu konsekuensinya menjadi tentor Sally.
Ohohohoho.
“Eh, Sally.” Ryan memanggilku. Aku
pun menoleh.
“What? Lo mau ke toilet? Tuh di
sana.” aku menunjuk papan bertuliskan TOILET.
“Eh, bukan. Gue mau liat-liat
beberapa buku juga. Lo nggak kebeatan nunggu kan? Eh, tapi kalo lo nggak mau, no problem kok. Kita bisa langsung pulang.
Tapi sebenernya guu..”
“Lo mau cari apa? Biar gue bantu.
Tugas pertama lo sebagai tentor belum terlaksana, kan. Cepet.!!” aku mengakhiri
ucapan bertele-tele yang keluar dari mulut Ryan.
“Eh, jadi.. lo.. ma, mau..”
“Ryan yang bego, lo mau cari apa?
Jangan buat mood gue berubah, honey.” (lagi-lagi) aku memotong
perkataan Ryan. Anak ini bener-bener minta ditonjok. Timbul keraguan untuk
percaya apakah memang dia penyandang Master of Mechanical di Bima Nusantara. Lha wong gobloknya nggak ketulungan.
“Yep, oke. Gue tau lo emang baik.
Gue mau cari buku komponen mesin. Nah, kalo diliat dari komik yang lagi lo
pegang, gue bisa nyimpulin kalo lo penggemar cerita misteri. Jadi tolong
pilihin novel, inget novel yaa. Apa aja deh, yang bagus, yang misteri. Itung-itung
buat refreshing gue.”
Wohaa.
Kali ini Ryan berbicara secepat supersonic
max power. Dan jujur saja. Hal kecil ini membuatku yakin kalau bakat
terpendam anak ini adalah menjadi karyawan sales
promosi yang luntang-lantung di pintu mall. Ups. Well, aku ngelantur lagi. Gomenasai.
Eh, ngomong-ngomong, bener juga. Komik yang tengah kupegang adalah Detective
Conan vol.60, 61, 62. Hmm, tidak kusangka Ryan memperhatikan hal ini.
“Got
it.” ucapku. Singkat.
Ryan ngacir entah kemana. Cepet juga
jalannya. Hm, jadi, harus kuambilkan novel misteri seperti apa anak itu?
Berbicara misteri, aku teringat Aoyama Gosho. Sempat terpikir untukku
mengambilkan beberapa komik Conan yang belum aku punya. Lumayan untukku bisa
meminjamnya. Yaah, tapi berhubung tadi Ryan bilang kalau dia memesan
novel—bahkan sampai diulang dua kali. Sial! Dia pikir pendengaranku separah
itu.—alhasil kuurungkanlah niat-cerdik-nan-licik itu. Setelah dipikir-pikir,
aku teringat dengan tokoh detektif favorit Aoyama. Sherlock Holmes. Tentu saja.
Lagipula, aku juga belum pernah membaca serialnya. Dan sepertinya cukup
menarik. Akhirnya kuputuskan utnuk memilihkan Ryan novel seri pertama dari
Sherlock Holmes. Yosh, Ryan. Sudah
dapat.
***
“Ini bagus?”
“Tentu. A Study In Scarlet. Seri
pertama Sherlock Holmes. Bagus, bego. Lo nggak bakal nyesel. Lo udah dapet kan?
Sekarang mood gue nggak akan berbaik
hati lagi. Pulang!”
Sial. Ryan lama banget waktu mencari
buku. Jujur saja, entah mengapa aku merasa sangat lelah dengan hal ini. Well, aku tau. Aku tak akan ngelantur
lagi. Aku benar-benar menginginkan pulang secepatnya.
Waktu di dalam mobil dalam perjalanan..
“Ngomong-ngomong, gue nggak nyangka
lho. Ternyata lo suka juga baca komik.” Ryan berbicara membuka obrolan saat
perjalanan pulang. Yaa, memang sekitar 5 menit pertama aku hanya diam saja di
kursi depan. Hal ini kulakukan karena aku sangat lelah. Sungguh.
“Biasa aja. Gue suka komik dari
kecil.” sahutku tanpa menoleh ke arah Ryan.
“Ooh.” balasnya.
Lima menit berikutnya, hanya diam.
“Lo diem aja. Kenapa?” (lagi-lagi) Ryan
memulai obrolan.
“Gue capek.” (lagi-lagi juga) aku
bicara tanpa menoleh kepada Ryan.
“Gara-gara nungguin gue? Sorry deh.
Tapi kan tadi gue udah bilang, kalo lo keberatan kita bisa langsung pulang.
Aduh, Sally. Kalo lo gini, gue kan jaa..”
“Sssst.. Udah-udah. Lo mau gue…”
Aku tau. Kalian bingung dengan
percakapan di atas. Begini deskripsinya. Ryan-si-cowok-bego-suka-ngoceh memulai
lagi perkataan panjangnya padaku. Entah mengapa aku sangat terganggu dengan hal
itu. Sontak saja aku menghadap ke arah Ryan dan mengacungkan telunjuk kanan di
depan bibirnya sambil berkata “Sssst.. Udah-udah. Lo mau gue…” Dan Sial! Entah sihir apa yang telah
mengenaiku, aku menghentikan perkataanku. Dan saat itu bisa kurasakan Ryan
perlahan menghentikan laju mobil. Ryan menghadap kearahku. Dia memegang jari
kelingking kananku dengan tangan kanannya. Tanganku yang telunjuknya mendarat
di bibir Ryan seakan beku di momen itu. Mata kami beradu. Ryan menatapku
dalam-dalam. Dan sepertinya aku juga melakukan hal yang sama. Dan saat itu, di
antara remang-remang malam, aku menyadari sesuatu dari Ryan. Oh Tuhan. Ryan yang ini ternyata ganteng
banget. Banget!! Rambutnya yang lurus kaku sebagian menjuntai ke depan.
Hidungnya yang macung, kulitnya ternyata cukup bersih. Bibirnya yang tipis
terlihat selalu basah—aku tidak tahu apakah ini efek dari liurnya atau yang
lain, tapi yang jelas, hal kecil ini membuat Ryan terlihat sangat sexy—dan
berwarna merah. Oh, dan lagi, bola matanya. Berwarna biru kehitam-hitaman. Hei, mungkinkah? Mungkinkah dia
sepertiku? Blasteran? Yea, kapan-kapan akan aku tanyakan.
Sekitar sepuluh detik—wohaa, lama
juga—kami terdiam dalam posisi yang sama seperti sepuluh detik yang lalu. Dan saat
memasuki detik ke-11, aku mulai menyadari sesuatu mengganggu otakku. Segera aku
memalingkan pandangan dan menarik tanganku dari Ryan.
“Abis nganterin gue pulang, lo juga
pulang. Tugas pertama lo jadi tentor dilakuin besok aja. Malem ini gue capek
banget. Lo bisa bawa mobil gue.” aku berbicara tanpa menoleh pada Ryan. Eh, aku
mulai menyadari sesuatu. Mungkin berbicara tanpa menatap orang yang sedang
diajak berbicara adalah salah satu kebiasanku. Yep, akan kuputuskan untuk
merubahnya. Aku tau, ini tidak etis kan?
“Oke.” jawab Ryan. Singkat. Tumben?
Setelah itu, sisa perjalanan menuju
rumahku kami habiskan dengan saling diam-diaman. Berkutat dengan pikiran
masing-masing. Sesekali aku menoleh sedikit ke arah Ryan. Dapat kulihat air
mukanya yang sangat berbeda. Dia terlihat tegang. Yaa, aku tau. Terjebak dalam
situasi seperti ini sangatlah membosankan. Sangat berbeda dari Sally yang
biasanya selalu membuat kegaduhan di setiap belahan bumi yang dipijaknya. Tapi
syukurlah, hal-membosankan ini segera berakhir. Aku sudah dapat melihat
kompleks perumahan tempat tinggalku di depan. Dan bingo! Itu memang rumahku.
Blep,
bakk. Aku membuka lalu menutup pintu mobil dengan cepat. Tanpa berkata
apapun kepada Ryan, aku segera berjalan menuju pintu masuk rumah. Melihat hal
itu, sepertinya Ryan sedikit terusik. Dari belakang, dapat kudengar suara blep, bakk yang tandanya dia ikut turun.
“Sally, tunggu.” itu suara Ryan.
Saat kuputuskan untuk membalik badan
dan menghampiri Ryan, tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu bergoyang-goyang.
Oh, itu kakiku. Hei, kenapa dengan kakiku? Dan lagi, mata. Mataku terasa penuh
dengan bintik-bintik mejikuhibiniu. Sial!
Kenapa dengan kaki dan mataku?
Tanpa mempedulikan mata dan kaki
aneh, aku berjalan mendekati Ryan. Namun baru satu langkah, aku merasa seperti
terpeleset. Dan setelah itu, semuanya menjadi gelap.






0 komentar:
Posting Komentar