This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 30 April 2012

Part 2 : Seorang Sally


            Yo Ho. Biar aku jelaskan sedikit mengenai bagianku. Namaku Sally Deww. Apa.? Nama belakangku yang terdengar seperti embun.?  Yap, beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Nama Deww kuperoleh dari ayahku. Tentu saja. Ayahku, Johnny Deww adalah seorang pengusaha asing berdarah Jerman yang menikah dengan ibuku, Kiara Deww orang Indonesia. Jadi singkatnya, seorang Sally Deww ini blasteran Indo-Jerman.

Part 1 : Ketepatan Yang Menguntungkan


            Oke, seharusnya aku telah menyadari hal ini sejak awal.
Membuat proyek studi dengan mengidekan robot pemecah biji kacang memang tidak keren. Entah setan apa yang telah mendorongku untuk tetap menggarapnya, namun di tengah-tengah saat sang setan telah kelewat sukses menghipnotisku, tiba-tiba saja musuh sang setan datang dan memaksaku untuk menghentikan garapan yang telah menyita banyak waktu, tenaga dan pikiranku. Mungkin sang setan memang harus lebih giat belajar ilmu hipnotis lagi. Dan sumpah! Bujukan musuh sang setan manjur banget.! Intinya, proyekku gagal. PROYEKKU GAGAL..!!!

Kamis, 19 Januari 2012

Analisis Gin



“Mmm.. Ke tempat dojo ya?”
            “Iyaa. Besok kebetulan aku tidak ada kasus. Kau juga telah lama kan, tidak latihan judo.“
            “Iya memang. Kalau begitu, aku akan ajak Gin dan Kazuha juga. Itu boleh kan, Yah?“
            “Maksudmu, teman perempuanmu yang detektif itu? Kalau boleh aku bicara, anak itu sangat sombong.“
            “Itu karena Ayah iri kepada Gin..!!
            “Hei, apa maksudmu? Belakangan ini aku memang tidak menerima kasus. Yaa.. kupikir minggu ini waktu yang tepat untuk bersantai.. “
            “Memang. Karena semua kasus telah dipecahkan oleh Gin.. Dasar, Ayah.! Ya sudah, aku mau tidur. “
            “Hei, Ran..!! Itu tidak benar. !!“
***
Keesokan harinya..
            “Selamat pagi..!! “
            Ran, Gin, Kazuha dan Kogoro (Ayah Ran) memasuki sebuah dojo yang cukup besar di kawasan Beika. Ran dan Kogoro memang seorang pejudo, jadi mereka terbilang sering datang ke dojo. Sedang Gin dan Kazuha, mereka adalah teman-teman Ran yang sering ikut ke dojo.
            “Selamat pagi, detektif Kogoro Mouri. Tidak kusangka kau akan datang sepagi ini. “ , sapa salah seorang yang berasal dari dalam dojo.
            “Yaa. Ini kulakukan untuk menghindari kemacetan. Oh, ya. Ran. Kenalkan, ini nona Mitsuki Honoka. Kepala pelatih di dojo ini. Aku yakin sebagai sesama pejudo, kalian akan cocok. “
            “Salam kenal. J“ , balas Ran.
            “Salam kembali. Baiklah, silahkan kalian bersenang-senang. Aku harus kembali ke pekerjaanku.“ , kata Mitsuki.
            Mitsuki berlalu. Masuk ke dalam ruangan yang terletak di sebelah kanan. Tak jauh dari tempat Gin dan yang lain berdiri.
            “Mmm.. Ngomong-ngomong, aku akan masuk ke ruangan yang di masuki Mitsuki itu. Kemarin manager dojo ini mengundangku untuk mengikuti acara demonstrasi. Ran, kau dan temanmu mungkin mau membeli sesuatu di kedai seberang jalan itu? “. Pertanyaan Kogoro membuat Ran sedikit tersentak.
            “Ayah ini bicara apa? Sudah tentu kami akan ikut Ayah. Benar kan, Gin, Kazuha.?“ , seperti meminta persetujuan, Ran mengerlingkan kepalanya ke dua temannya.
            “Itu sudah pasti.. “ , jawab Kazuha berapi-api. Gin hanya diam sambil tersenyum tipis. (Gin memang aneh. Sebagai seorang detektif, sikapnya terlalu maskulin.)
            Sudah kuduga akan begini.. =.=“ , batin Kogoro dengan muka tertekuk. Mereka berempat berjalan beiringan memasuki ruang demonstrasi.

Setelah memasuki ruang demonstrasi..
            “Ah, paman Kogoro. Ternyata kau akan datang. Aku sudah menunggumu. Haha. “ , sapa seorang laki-laki berusia sekitar 21 tahun. Dia adalah Hidan Hazae.
            “Setelah mendengar tentang pelaksanaan demonstrasi ini, kupikir kau tidak akan datang, Kogoro. Hahaha.. Ternyata kau tidak cengeng lagi. “, terdengar suara berat dari seorang pria berusia sekitar 40 tahunan dari belakang Hidan.
            Kogure Masami..!! Kau memang tidak berubah.!!  batin Kogoro.
            “Hei. Apa-apaan kau ini. Kudengar kau sudah berhenti dari judo. Dan lagi, orang seperti aku tak akan berubah pikiran untuk mengikuti demonstrasi ini. Benar kan, Hidan. Hahaha..“ , jawab Kogoro.
            “Yeahh. Tentu saja. Paman Kogoro memang kereen.. “ , balas Hidan dengan berapi-api.
            “Ah, sudahlah, Tuan-Tuan. Sebentar lagi, demonstrasi akan dimulai. “ Sosok wanita dengan perawakan ramping muncul dari kiri Kogoro, dan mendekat. “Lebih baik, semuanya siap-siap. Hehe.. J“ , tambahnya.
            “Loh, nona Sonoko? Kenapa bisa ada di sini? Sudah beralih dari samurai ke judo ya? “ , tanya Kogoro.
            “Ahaha. Itu jelas tidak mungkin. Bukannya demonstrasi kali ini, judo digabungkan dengan samurai ? Selain itu, di awal latihan, harus dengan tutup mata lho. Ahaha. “ , jelas Sonoko.
            Ja..jadi begitu. Uhuhu. Jadi ingin berubah pikiran. T.T , batin Kogoro dengan wajah ala kepiting yang siap di goreng. Dag dig dug.
            Hhh.. Sudah kuduga. Kau tetap cengeng, Kogoro. Hahaha. , batin Kogure, dengan wajah penuh kemenangan.
            Melihat para orang tuanya yang meributkan hal sepele, Ran, Gin dan Kazuha hanya memandang heran.
            Aa..apa-apaan mereka.. =.=“ , batin Gin, tetap dengan heran.
            “Hohoho. Mungkin memang harus segera dimulai. Begitu kan, Tuan-Tuan.. Hohohoho.. “. Lagi-lagi sebuah suara berat seorang laki-laki berusia 50 tahunan dari pintu masuk.
            “Aaa‘. Tuan Donzou Hattori. “ , kata orang-orang pejudo dalam ruangan, hampir serentak. Lalu mereka memberikan salam khas pejudo kepada orang yang dipanggil tuan Donzou.
            “Osh. J Baik semuanya. Ayo cepat kita mulai. Tuan dan Nona, silahkan ambil atributnya di ruang peralatan. Daan, untuk para nona cantik yang berdiri di sana, “ tuan Donzou melangkah menuju Gin, Ran dan Kazuha. “Mohon maaf. Tapi selama demonstrasi, kalian harus berada di luar, nona. “ lanjut tuan Donzou. Cara bicaranya sangat sopan, selain itu wajahnya juga terlihat sangat bijaksana.
            “Osh. Baik. Ahaha. Tentu saja, kami akan menunggu di luar. Ayo Gin, Ran. “ , jawab Kazuha.
            “Aah, tunggu dulu. Bukannya ada yang kurang dari pejudonya? “ , kata Ran.
            “Aaah. Saya rasa juga demikian. Pantas saja jumlah pejudonya tidak genap. “, tuan Donzou menyetujui perkataan Ran.
            “Mitsuki. Di mana Mitsuki? “ , kata Gin. Benar juga. Mitsuki tidak ada di ruangan.
            Cklak.. Suara pintu dibuka.
            “Hah, hah. Ah, maaf. Sepertinya saya terlambat. “ , Mitsuki berbicara sambil mengatur napas. Dia sudah menggunakan seragam sama seperti yang lainnya. “Tadi saya ke luar untuk membeli minum. Ahaha. Sekali lagi maaf ya. “ , lanjutnya.
            “Baiklah. Segera kita mulai. Nona-nona, silahkan. “ ,kata Donzou Hattori. Mempersilahkan Ran, Gin dan Kazuha keluar.
            Ketiga remaja itu beranjak keluar. Saat menuju ke pintu, Gin mengalihkan perhatiannya ke keadaan di belakangnya. Terlihat beberapa orang terlibat percakapan.
            “Hei, Hidan. Botol minummu itu, tidak kau lepas? “ , tanya Kogoro
            “Ah, ini. Tidak usah. Dengan digantungkan di ikat pinggang celana begini, akan mudah mengambilnya saat haus. Ahaha. “ , jawab Hidan.
            “Hidan. Tolong pengangkan samuraiku, sebentar. “ , Mitsuki dari belakang meminta tolong. Hidan lalu memegangkan samurai Mitsuki.
            “Ah, ternyata kau masih mau bicara denganku, Mitsuki. Atau mungkin, kau masih mencintaiku? Ahahaha.. “ , jawab Hidan enteng.
            “Jangan bodoh. “ , Mitsuki mengambil kembali samurainya. Ternyata dia memakai sarung tangan. “Itu tidak mungkin terjadi. “
            “Yaaa, aku tau. Ah, kenapa kau pakai sarung tangan segala.? “
            “Tanganku berkeringat. “ , jawab Mitsuki singkat. Kemudian berlalu meninggalkan Hidan. Yang ditinggalkan lalu mengambil botol minuman yang tergantung di celananya, lalu meneguknya.
            Hhhmm.. Mantan ya..Hahaha.. , batin Gin. Saat hampir mendekati pintu keluar Gin mengarahkan pandangannya ke bawah.
            Tik.. Gin sedikit terkejut melihat sesuatu yang menempel di lantai. Gin lalu berjongkok, dan memungutnya. Ini.. kenapa ada di sini? Siapa yang membawanya?
***
Setelah keluar dari ruang demonstrasi..
            “Gin, Ran. Kita ke kedai itu yuk. Aku ingin minum. “ , ajak Kazuha, sambil menunjuk kedai yang di depan.
            “Mmm. Bagaiman kalau ke kamar kecil dulu? “ , Gin meminta.
            “Benar juga. Rasanya panggilan alamku tidak bisa di toleran lagi. “ , jawab Ran ngasal. “Kazuha, mau kan? “, tambah Ran.
            “Ugh, baiklah. Sepertinya panggilan alamku juga udah konser. “
            “Ahahaha.. “ , mereka bertiga tertawa lepas. Sambil melangkah menuju toilet.

Di toilet..
            “Mmm, Ran. Sebenarnya, tentang pak Donzou tadi. Siapa dia? “ , tanya Gin.
            “Oh, dia. Dia adalah pejudo yang tak terkalahkan. Dia selalu menang dalam turnamen. Kecuali, oleh nona Mitsuki. Kamu tau kan, nona Mitsuki yang masih muda dan perempuan pernah mengalahkan pak Donzou. Di sini, pak Donzou menjadi manager. Dia juga kaya. Kau tau nona Sonoko? Aku pernah dengar bahwa nona Sonoko sedang terlibat hutang dengan pak Donzou. “ , terang Ran.
            “Ran, Gin. Ayo. Kalian sudah selesai kan? “
            “Iya. Ayo kita ke depan“ , ajak Gin.
            Setelah keluar dari toilet, mereka bertiga kembali melewati ruang demonstrasi. Tapi, baru beberapa langkah, mereka dikejutkan oleh sesuatu.
            Bugh, jlep.. “Aaaaargg.. “ , terdengar teriakan dari dalam ruangan. Sontak, Gin berlari menuju ruang, mendobrak pintu, lalu... membelalakkan mata.
            Tuan Donzo Hattori tersungkur berlumuran darah dengan samurai terhunus di dada kirinya..!!
***
            “Sesuai perkiraan, korban diserang dari depan. Di dorong hingga pintu, lalu di tusuk  dengan katana. Sepertinya, orang yang melakukan ini adalah orang yang sangat lihai dalam penggunaan katana dan sejenisnya. “ Inspektur Yamato, dari kepolisian telah tiba untuk memeriksa kondisi korban.
            “Tapi, bagaimana dengan laporan tentang mata yang ditutup saat waktu pembunuhan? “ , tambah polisi Chiba
            “Itu juga yang jadi keherananku. Untuk saat ini, minta keterangan yang lebih lanjut pada orang yang berada di ruangan ini saat waktu terjadinya pembunuhan. “ , Inspektur Yamato menegaskan.
Gin yang berada di ruangan itu, berjalan mendekati lokasi korban. Lalu mulai mengamatinya.
            Korban ditusuk dengan katana.Keadaan ruangan ini jelas tertutup. Itu berarti pelaku adalah salah satu dari yang berada di ruang ini. Tapi, bagaimana pelaku membunuh korbannya dengan keadaan mata yang tertutup. Zing.. Ah, ada bekas air.Gin berjongkok untuk melihat lebih dekat. Gin menempelkan jari tulunjuk kirinya ke bekas air yang mulai mengering. Aah. Ini kan.. Hidan.!! Gin mengerutkan wajahnya. Dia langsung menghambur menuju Inspektur.
            “Inspektur Yamato“ , sapa Gin.
            “Ooh, Gin. Kau ada di sini? Sudah menemukan sesuatu? “ , jawab Inspektur Yamato.
            “Kebetulan tadi detektif Kogoro Mouri mengajakku dan Kazuha kemari. Ah, dan lagi. Aku ingin melihat kondisi korbannya.“ , lanjut Gin.
             “Sepertinya kau menemukan hal yang penting. Baiklah, kau bisa melihatnya di ambulans. Ada di depan sana.“ , jawab Inspektur Yamato.
            “Arigatou, Inspektur Yamato.“
            “Osh, Gin.“
            Gin keluar dari ruang. Di depan ruangan ada Ran dan Kazuha.
            “Ran, Kazuha. Mau ikut tidak? Ke kedai depan. Tadi, kalian belum sempat minum kan? “ , kata Gin.
            “Osh. Tentu Gin. Ayo berangkat.. >_<“ , tekat Kazuha memang berapi-api. Mungkin amaterasu pun akan bisa dikalahkan oleh tekat Kazuha ini.
            Kazuha berjalan di depan. Tinggal Ran dan Gin yang berjalan beriringan.
            “Gin, besok kamu nggak ada kasus kan.? Aku punya tiga tiket pertunjukan sulap di Kyoto. Nanti kita berangkatnya naik kereta. Gimana.? “
            “Hheehe. Sulap ya. Yang seperti apa? “
            “Yang ini hebat. Pesulapnya akan ditutup matanya. Lalu, dia akan bertarung dengan samurai. Kereen kaan.. “ , sepertinya Ran juga punya kekuatan untuk mengalahkan amaterasu. =.=“
            “Ahahaha.. Ran-chan, jika kau tau triknya itu takkan sekeren yang dibayangkan. Pesulap yang ditutup matanya akan tetap bis...aa “ Ting..!! Gin menghentikan penjelasannya. “Ran-chan, aku pergi sebentar. Ran menyusul Kazuha saja. Nanti aku juga akan ke sana. “. Belum selesai Gin berkata, dia suda menghambur ke seberang jalan tempat ambulans terparkir.
            “Giin.. Mau ke manaa..?? Cepat ,menyusuul kamii.. “ , teriak Ran dari belakang Gin.
            Jadii.. Seperti itu.. Pelaku menggunakan trik yang sama dengan pesulap mata tertutup.!! Gin berlari menuju ambulans dengan rahang mengatup.

Sesampainya di dalam ambulans..
            Gin memengamati tubuh pak Donzou. Bekas katana terhunus terlihat jelas di dada kirinya bersama bercak darah yang mulai mengering.
            Tusukannya. Kenapa begini?  Dan, Inspektur bilang korban terkena tendangan dari pelaku. Berarti di sini. Ah, yang ini, telak. Di ulu hati. Pik..!!  Apa ini. ? Gin memungut sesuatu dari pakaian pak Donzou. Haah. Ini kann..
            Gludak.. Gin keluar dari ambulans. Segera berlari menuju dojo. Tapi, baru berlari  beberapa meter, Gin mendapati Kazuha dan Ran telah berdiri di depan dojo.
            “Ran, Kazuha. Kalian tidak jadi minum.? “ , tanya Gin, heran.
            “Huuh. Ini menyebalkan. Kedai di sana tidak menjual minuman. Mereka bilang, hari ini semua minuman botol laris terjual. Karena begini, aku dan Ran harus berjalan ke kedai yang di sana. Dan yang paling menyebalkan, kedai jauh itu hanya menjual minuman jenis ini... “, keluh Kazuha, sambil mengacungkan sebuah botol minuman.
            Ziing..!! Gin terkesiap melihat itu.
            “Ini menjijikkan. Kedai di sana di kelilingi oleh tanah yang berumput. Rumputnya basah. Agh, sepatuku kotor. Kalau masuk dojo, pasti akan menumbulkan jejak. “ , Ran juga mengeluh.
            Sepatu, jejak, rumput basah, botol minum.. Hmm.. Ahh..!! Jadi.. begitu. Batin Gin. Seketika itu juga, Gin berlari mendahului Ran dan Kazuha.
            “Ran, Kazuha. Ayo segera ke ruangan. “ , ajak Gin, setengan berteriak.
            “Tapi, Giinn.. “ , Ran dan Kazuha memanggil bersamaan. Tapi yang dipanggil telah melesat.
            Jika memang begitu, kenapa harus botol minuman Hidan.? Apa maksudnya? Dan, lukanya. Jika seperti ini, akan terlihat bahwa  pelakunya adalah…. Hidan Hazae.!!!  Gin masuk dalam ruangan. Di sana telah ada Inspektur Yamato, polisi Chiba, Kogoro serta beberapa polisi lain. Jejak kaki, sepatu. Sepatu..!! , Gin mengedarkankan pandangannya ke bawah.
            “Ah, Gin. Kami telah mendapat hasil dari penyelidikan. “ , kata Inspektur Yamato.
            “Jadi, pelakunya telah diketahui.? “ , tanya Gin.
            “Untuk saat ini, polisi menyimpulkan pelaku adalah salah satu dari tiga orang berikut. Yang permata, Sonoko Kisaki. Dia memiliki motif yang kuat untuk membunuh pak Donzou. Sonoko terlibat hutang dengan korban. Selain itu, Sonoko juga sangat lihai dalam menggunakan pedang. Dari sini, bukti jika Sonoko pelakunya sudah mulai terlihat. Yang kedua, Hidan Hazae. Tuduhan ini ada karena...... dalam gagang katana yang digunakan untuk menusuk pak Donzou, ditemukan sidik jari Hidan. “ , mendengar penjelasan dari polisi Chiba, wajah Hidan langsung menegang. “Dan yang terakhir, Kogure Masami. Kemungkinan motifnya adalah untuk menggeser kedudukan pak Donzou yang telah lama diincarnya. Tapi, demikian. Semua tuduhan masih berdasarkan dengan kemungkinan motif. Dan yang mengherankan adalah, bagaimana pelaku membunuh korban dengan mata tertutup. “ , tandas polisi Chiba.
            “Ta..tapi kan, saya, itu.. “ Hidan berkata dengan terbata-bata.
            “Memang benar. Pelakunya, adalah kau Hidan Hazae. “
***
            “Kau yang menyerang pak Donzou dengan katana. Kau hanya bisa mengira-ngira saat itu karena matamu tertutup, sehingga kau sulit bergerak. Itulah yang menyebabkan, botol minuman yang tergantung di pinggangmu itu tumpah ke tubuh pak Donzou, dan tercecer di sekitar korban. Lalu kau segera bangkit, menjauh dari korban dan segera menutup kembali botol minummu. Kau meninggalkan sidik jari di katana. Dan, bajumu. Pasti di sana ada bekas percikan dari minumanmu. Benar kan, Hidan.. “ , jelas Kogoro. Yang sontak membuat suasana menjadi cengang.
            “Tapi paman. Itu.. ti... tidak mungkin kaan.. “ , jawab Hidan.
            Hm.. Jika memang benar yang dikatakan Paman, kenapa ada...  Sret..!! Ekor mata Gin menangkap sesuatu. Air wajahnya sontak berubah. Dii..dia..!! Botolnya..!!  Gin membalikkan badan, berlari ke luar ruang. Yang jelas membuat semua heran. Jika dugaanku benar, maka... Gin menuju tempat sampah, mengoreknya, dan memungut sebuah botol. Bibir mungilnya mengulaskan senyuman. Pelakunya, bukan Hidan..!!!
***
            “Sepertinya, pelaku yang sesungguhnya, bukan dari ketiganya, Inspektur. “ , ucapan Gin membuat Kogoro tercekat.
            “Bukan begitu, nona Mitsuki Honoka.?
            “Kau yang membunuh tuan Donzou Hattori. “ tandas Gin.
            “Gin.. a..apa maksudnya.? “ , Kazuha juga ikut tercekat.
            “Jika aku tidak salah, jenis minuman yang anda beli sesaat sebelum demonstrasi dimulai adalah minuman yang sama dengan yang dibawa Hidan, dan anda membelinya di kedai jauh sana,  kan. “ , ucap Gin.
            “Lalu, saat melakukan pembunuhan, kau sengaja menumpahkan minumannya, untuk membuat seakan-akan pelakunya Hidan. Karena orang akan berfikir, jika satu-satunya yang membawa minuman itu hanyalah Hidan. Benar begitu kan, nona Mitsuki. “ , lanjut Gin.
            “Aa..apa.? Aah,ahahah. Mungkin kau bercanda. Tapi kan, jelas pembunuh yang lebih cocok adalah Sonoko yang lihai memainkan pedang itu? Lagi pula, aku kan seorang perempuan. Mana mungkin mampu mengalahkan tuan Donzou yang legendaris itu. “ , kata Mitsuki setelah mendengar penjelasan dari Gin.
            “Seorang samurai, akan mengetahui letak kelemahan lawannya, dengan begitu sang samurai akan mendaratkan hunusan tepat di titik kelemahan si korban. Tetapi berbeda dengan pak Donzou. Jika memang titik yang dipilih adalah jantungnya, tusukannya tidak mungkin meleset jauh ke kanan dari jantungnya. Selain itu, kau melupakan satu hal. Meski kau perempuan, kau adalah satu-satunya orang yang pernah mengalahkan pak Donzou dalam pertandingan.
            “Dengan begini, nona Sonoko bias dilepaskan dari tuduhan. Selain itu, saat nona Mitsuki menendang pak Donzou hingga ke pintu, dari hasil autopsi, tendangan itu telak di ulu hatinya. Dengan ini, peluang untuk menjadi tersangka adalah seorang pejudo. Dan pada saat Mitsuki mendaratkan tendangannya, ia meninggalkan sebuah jejak yang juga terdapat di alas kakinya. Jejak rumput basah, yang dibawanya dari kedai jauh waktu membeli minum. “ , ucap Gin.
            “Ahahaha. Bocah, ceritamu yang terdengar seolah telah dirancang ini memang menarik, tapi apa kau lupa. Di gagang katana itu, terdapat sidik jari Hidan. Seharusnya jika pelakunya aku, seharusnya sidik jariku kan yang ada di sana. “ , kata Mitsuki. Nada suaranya terdengar agak bergetar.
            “Itu karena, kau menyuruh Hidan untuk memegangkan katanamu, selagi kau memakai sarung tangan. “ , ujar Gin. Raut wajahnya menampakkan aura yang cerdik. “Dengan begini kau membuat seolah Hidan-lah pelakunya. “ , tambah Gin.
            “Dan pasti, jika polisi menggeledah tasmu, mereka akan menemukan sarung tangan dengan sidik jarimu di sana, dan juga… di sini. “ , kata Gin. Seraya mengacungkan sebuah botol minuman kosong yang sama dengan milik Hidan.
            “Haah.. Ka.kau.. “ , Mitsuki membelalakkan kedua matanya. Tenggorokannya sesara tercekik, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
            “Tapi, Gin. Bagaimana dia melakukan pembunuhan dengan mata tertutup? “ , tanya polisi Chiba.
            “Itu mudah, polisi Chiba. Karena dia menggunakan trik yang sama dengan pesulap mata tertutup. Saat menutup matanya dengan kain, kelopak mata akan dipejamkan rapat-rapat sampai kain terikat. Setelah itu, saat mata dibuka dalam keadaan tertutup, kelopak mata akan mengangkat kain ke atas sedikit-sedikit hingga terbuka celah untuk melihat. Begitu lah, trik sulap mata tertutup. “ , jawab Gin. Dengan senyuman tersungging di bibirnya.
            “Lalu, kenapa Mitsuki harus menjadikan Hidan sebagai tersangka? “, Tanya Kogoro.
            “Itu karena, dia-lah yang menghancurkan semua usahaku. Hidan Hazae-lah, yang telah memperalat perusahaan kecilku, untuk mendapat keuntungan bagi usaha dojonya. Itu benar kan Hidan.!!! “, teriak Mitsuki sambil terisak. “Dan soal pak tua Donzou, dia-lah yang menjadi sumber dana dari perusahaanku. Aku telah berhutang banyak padanya. Tapi karena usahaku yang hancur, aku jadi ketakutan dengan hutangku. Akhirnya aku putuskan, untuk mengakhiri saja hidup tua bangka itu, dan menjadikan Hidan lah tersangkanya. ITU BENAR-BENAR JENIUS KAAN..!! “ Mitsuki berteriak dengan liar. Dia jadi tak terkendali, sambil terisak.
            “Maa..maafkan..maafkan aku, Mitsuki. Andai oto-san tidak mengetahui bahwa perusahaan bilateralnya adalah Donzou, mungkin kau tak akan perlu melakukan semua ini. Mitsuki, aku benar-benar minta maaf. “ , ujar Hidan tiba-tiba dengan wajah tertunduk.
            “Baiklah, dengan ini kasus selesai. Dan anda, nona Mitsuki. Harap ikut kami ke kantor sekarang juga. “ , kata Inspektur Yamato.
***
            “Dengan begini kita bisa pergi ke Kyoto untuk melihat sulap kaan.?? Yuhuu. “ , kata Ran.
            “Tapii, gara-gara Gin memberi tahu triknya, sulap itu jadi tidak menarik lagi. “ , jawab Kazuha.
            “Yaah. Tapi itulah kebenarannya. Dan kebenaran, hanya ada satu.!! Haha.. “ , ujar Gin.
            Ketiga remaja itu tertawa lepas sambil berjalan beriringan, berhiaskan cahaya matahari senja.
            “Heii, Raaan. Kazuhaaa.. Dan, heei Giin.. Apa sih.??!! Kenapa aku ditinggaal.. “ , teriak Kogoro Mouri dari jarak yang cukup jauh dengan ketiga remaja tersebut.





Nama             : Sintia Arianti
Kelas              : 9G
Absen             : 26



Rabu, 18 Januari 2012

I'm With You

I'm standin' on the bridge
I'm waitin' in the dark
I thought that you'd be here by now
There's nothing but the rain
No footsteps on the ground
I'm listening but there's no sound