Senin, 30 April 2012

Part 1 : Ketepatan Yang Menguntungkan


            Oke, seharusnya aku telah menyadari hal ini sejak awal.
Membuat proyek studi dengan mengidekan robot pemecah biji kacang memang tidak keren. Entah setan apa yang telah mendorongku untuk tetap menggarapnya, namun di tengah-tengah saat sang setan telah kelewat sukses menghipnotisku, tiba-tiba saja musuh sang setan datang dan memaksaku untuk menghentikan garapan yang telah menyita banyak waktu, tenaga dan pikiranku. Mungkin sang setan memang harus lebih giat belajar ilmu hipnotis lagi. Dan sumpah! Bujukan musuh sang setan manjur banget.! Intinya, proyekku gagal. PROYEKKU GAGAL..!!!

Wait, wait, wait.! Tunggu dulu. Setelah mengetahui fakta ini, mungkin kalian akan berpikir bahwa aku adalah anak kuliah yang bodoh, malas, dan kerjanya hanya luntang lantung muterin kampus saban harinya. Jika iya, kalian salah total. Sekali lagi aku tegaskan, salah total.!! Di International Senior High School Bima Nusantara yang dibanggakan tujuh turunan itu, aku bukanlah cowok tanpa title. Yap, aku mendapat julukan Pak Mesin dari teman-teman seangkatanku—oiya, di sekolahku ada kelas mekanika untuk ekskul. Dan setelah kupertimbangkan, sepertinya aku memiliki cukup bakat di bidang ini. Dan, bingo.!! Itu diberikan karena kemahiranku dalam mengutak-atik komponen-komponen mesin dalam suatu perabotan. Mau tau sebuah fakta? Aku mendapatkan nilai A di bidang mekanika.
Ups! bukannya aku termasuk cowok yang senang pamer sana-sini. Yaah, tapi itu memang keahlianku.
Oke, kembali ke topik awal. Proyekku gagal. Dan ini sangat memalukan jika mengingat title-ku tadi. Yap, mungkin yang aku butuhkan hanyalah sedikit istirahat.
Bugh.. Kuhempaskan tubuhku ke kasur dengan kasar. Dan sialnya, hal itu membuatku menahan sakit karena ternyata aku melakukannya terlalu sungguh-sungguh. Lalu kupejamkan mataku. Membayangkan sedang ada di Hawaii, berjemur di bawah sinar matahari, menyanding segelas lemon tea dingin, mendengarkan musik klasik, merasakan getaran handphone…..  Heii, yang terakhir tidak termasuk dalam kegiatan di Hawaii.!! Sontak kubuka mataku. Meratapi mimpi Hawaii yang hilang dan, ahh..!! (lagi-lagi) getaran handphone. Akhirnya kuputuskan untuk mencari benda-kecil-sial-si-perusak-mimpi-Hawaii itu. Dan, bingo.! Ternyata memang bergetar. Ada 2 pesan masuk. Mau aku bacakan? Oke, here we go..
Yang pertama dari Alex. Dia itu ketua kelompok karate. Teman akrabku. Oiya, Alex anak kuliahan, man. Dia belajar di ITB.
            Man, gue ada pekerjaan bgus bwt lo. Ntar mlm ya, jm 7 di Indiana.
Oke, pesan dari Alex membuatku terlihat seperti pengangguran-maniak-lowongan-kerja dan membuat Alex seperti teman si pengangguran-maniak-lowongan-kerja yang baik hati dan mencarikan pekerjaan. Oh well, setidaknya tidak seperti itu. Oke, mungkin nanti malam aku akan berangkat.
Yang kedua, dari Pak Viktor. Heh, Pak Viktor.? Dia pembina mekanika di kelas ekskul. Oh, Ups..!! jangan-jangan dia mau nagih proyek-bujukan-setan-goblok-nggak-jago-hipnotis itu. Oh no, oh no, oh no. Sambil memejamkan mata dan komat-kamit, aku membuka pesan dari Pak Viktor yang, isinya, sangat membingungkan dan sekaligus melegakan.
            Ryan, bsok jm 9 mlam kmu ke ruang bpk y. Bpk punya tgas bru untuk kmu.
Yeah, setidaknya hal ini membuatku lega. Eh, wait. Apa maksudnya? Proyek terbaruku kan belum selesai(lebih tepatnya gagal),  Pak Viktor memberiku tugas yang lain, dan dia memintaku untuk menemuinya malam hari? Aneh.. Oh payah, apapun kayaknya nggak ada yang bisa membuatku lega.
***
Café Indiana, 18.44 pm
            Yap, aku datang memenuhi ajakan Alex. Setelah kupikir-pikir dan kutimang-timang, aku juga butuh refreshing. Dan café bukanlah tempat yang buruk. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk datang lebih awal dari jadwal yang ditentukan Alex. Dan, bingo.! Hal ini manjur mengusir penatku sejak siang tadi. Suasananya dingin tapi sejuk, pelayannya ramah, makanannya pun sayang kantong anak kuliahan. Terlebih lagi air putihnya yang gratis. Lumayan saat aku sedang benar-benar krismon. Indiana Café emang nggak ada duanya.
            Sekitar 8 menit dari jadwal sebenarnya, Alex dan kedua sohibnya—yang kalau nggak salah namanya Martin dan Leo—muncul. (Mudah-mudahan kedua anak itu belum ganti nama.)
            “Alex, Martin, Leo..” Kusapa mereka satu per satu.
            Hampir bersamaan, ketiganya menoleh padaku. (Well, setidaknya hal ini membuktikan jika mereka belum mengganti nama mereka.)
            “Cortel, bro. Jalanan macet, “ sapa Alex.
            “No problem.” sahutku singkat.
            Mereka duduk di kursi samping dan depanku. Singkat kata, kami satu meja.
            “Jadi, lo nerima itu apa nggak.?” tanya Leo. Aku mlongo.
            “Itu.?” jawabku. Tetap mlongo.
            “Alex belum cerita?” tanya Martin.
            “Apaan?” aku masih tetap mlongo.
            “Jadi gini, man..” si Alex angkat bicara. Sesaat kepalanya yang nyaris botak itu berkerut-kerut. Kalau diperhatikan, Alex ini anaknya ajaib banget. Seingatku dia jarang memotong atau mencukur rambutnya, bahkan belakangan aku mengetahui jika dia sebenarnya berniat menggondrongkan si rambut. Tapi entah mengapa kutak tau kau di mana, dari jaman nenek moyang masih pelaut sampe era transformer-pun rambutnya ya tetep segitu-gitu aja. Dan baru-baru ini aku dengar dia sedang memfokuskan untuk merawat dan memanjangkan mahkotanya yang nggak mirip mahkota itu. Huehehehe. Jujur saja hal itu membuatku sedikit menahan tawa. Mau dibawa ke dukun Jawa sampai tabib China sekalipun, aku jamin kepalanya nggak akan punya mahkota panjang. Mengingat hal itu, tanpa kusadari aku menyunggingkan senyum.
            “Gitu deh. Lo mau kan nerima tawarannya ?  Sumpah ! Cuma itu yang dapat kudengar dari mulut Alex. Kyaaaa… Tadi dia ngomong apaaa.. !!! Apa aku suruh dia ngulang lagi ya ? Hah, gila. Kayaknya si Alex tadi cerita sampe mulutnya berbusa-busa gitu. Masa suruh ngulang. ?!! MASA SURUH NGULAANG.. ??!!
            Akhirnya dengan kikuk aku menjawab, “Oh, yaa. Itu siih. Resikonya nyeremin banget, Man.“ Nyeremin banget jawaban ngawur gue. Batinku bergejolak. Whaa, Mamaaa. Bukan apa-apa. Tapi si Alex ini termasuk tipe anak yang nggak seneng dikacangin—kayaknya aku juga. Bayangkan, kalau dia sampai marah, lalu dia menarik kerah bajuku, melemparku ke pojok, dan menjurusku dengan teknik-teknik karatenya. (Oke, sebenarnya Alex tidak akan seperti itu, tapi tetap saja, dia tidak suka dikacangi!) Payah, aku nggak boleh ngelantur lagi. Intinya, fokus!!
            “Tapi gue rasa lo bisa ngelakuinnya, Man. Simple kan. Lo ajak Sally ke prom night, buat dia ngaku kalo dia cinta ama lo, setelah itu lo campakkin dia.” ujar Alex.
            Heh, apa dia bilang? Dia nyebut nama Sally? Sally? Sally es-a-el-el-ye? Ngajak Sally ke prom night? Trus, terus, terus? Dicampakkin? Payah, sohibku satu ini memang minta di tonjok. Bangsat-cari-mati mana yang berani gituin Sally?
            “Wuits, man. Gue, gue nggak berani. Angkat tangan. Lagian, urusan kalian apa terhadap Sally? “ balasku. Jujur!
            “Yah, bro. tadi kan gue bilang..“—gue nggak dengerin, bego—“Lo tau kan. Sally itu cewek yang sok banget. Udah banyak cowok yang patah hati gara-gara dia. Tiap kali ada cowok yang nembak, dia jual mahal pake nggak nerima segala. Sebagai sesama kaum yang terlantarkan,“—kurang ajar.! Memangnya sebegitu mengenaskan nasib kaum Adam—“apa solidaritas lo nggak muncul? Gue cuma pengen buat dia ngerti gimana rasanya ditolak, dicampakkin, dikacangin.“—Oke, sekarang Alex bercerita bak aktor telenovela yang hendak meraih piala oscar. Aku jadi yakin kalau bakat terpendam Alex adalah bermain peran protagonis yang ditindas-tindas pemain antagonis.—“Intinya, kita bakal buat dia belajar. Lagian, menurut gue, tampang lo cakep kok. Kelewat cakep malah.“—sialan!! Kenapa dia baru menyadari hal itu.—“jadi, lo harus nerima tantangan ini.” Alex mengakhiri cerita sambil mengusap kening. Huahahaha. Hal itu mengingatkanku dengan mahkota-tabib-China-dukun-Jawa di kepalanya yang licin itu.
            ”Mmm,” aku melengkungkan bibirku ke atas. “masalahnya, Man. Lo tau kan Sally itu siapa. Dia kayak apa. Nah, kalo gue beneran ngelakuin apa yang lo bilang tadi, siksaan neraka jahanam bakal jadi sarapan gue tiap harinya, bro.” Kali ini aku jujur. Sally adalah cewek ajaib di Pratista. Oke, aku cowok dan dia cewek. Meski begitu, Sally yang ini memiliki sifat yang arogan banget. Dia akan tidak segan-segan menghukum siapapun yang berani main-main dengannya. Dan, oke. Aku mengakui. Aku takut—lebih tepatnya malas berurusan dengannya.
            “Please dong, Man. Ini masalah harkat-martabat kaum kita.” Alex bener-bener gila!
            “Tunggu, man. Lo mau ngasih dia pelajaran, kenapa lo nyuruh gue? Kenapa nggak lo aja yang maju. Abis itu, lo tau sifat sikap Sally dari siapa?” elakku. Dalam hati, aku memendam harapan tingkat dewa supaya Alex berhenti memaksaku.
            “Eee, itu sih..” Kali ini Alex bicara dengan tersendat-sendat. Entah hanya perasaanku atau apa, Alex terlihat berpikir keras. “Cerita Sally, Martin yang ngasih tau gue”—Oh iya, bego. Martin kan anak Bima Nusantara juga. Bisa-bisanya aku lupa—“Dan, tadi gue udah bilang kan. Wajah lo tuh kelewat cakep. Jadi pasti mudah deh, bikin Sally nambatin hati ke elo.”
            Oke, dalam hal ini, mungkin Alex benar. Sebenarnya tampangku itu cakep banget lho. Sumpah! Kulitku putih, berbadan tinggi, dan aku juga tidak gemuk-gemuk amat. (Postur itu kudapatkan dari gen ayahku. Singkatnya, aku Indo-Jerman.) Ditambah lagi otakku yang lumayan encer. Jarang-jarang kan, ada cowok tampang dan otak memadahi.
            Ups! Sekali lagi, aku tidak suka pamer. Memang begitulah fakta bicara.
            “Dan lagi, man. Anggep aja lo lagi bayar upeti.“ tukas Alex. Heh, upeti?
            “Maksud lo?“
            “Masa lo lupa sih. Perjuangan gue melawan killer bee udah kayak perjuangan dewa tiada tara, bro.“ si Alex (lagi-lagi) mengusap sang kening.
            Oh payah, keyakinanku—jika lambat laun hal ini akan menyusahkanku—benar-benar  terjadi. Begini, akan aku ceritakan sedikit yang Alex maksud sebagai perjuangan-dewa-tiada-tara. Sekitar lima hari yang lalu, pada siang hari yang cantik, dan langit berhiaskan awan-awan unik, yang mana merupakan jadwal kencan dengan pacarku yang nyentrik, tiba-tiba saja pak Agus mengirimi sebuah pesan kematian padaku. (Well, dengan begini pak Agus akan terdengar seperti malaikat pencabut nyawa.)
            Ryan, 10 menit lagi tmui bpk di kantin.
            Heh, sontak saja itu merupakan pesan kematian untukku. Masalahnya bukan pak Agus, melainkan pacarku yang nyentrik itu. Kawan, jangan salah dulu. Nyentrik yang aku maksudkan di sini adalah killer arogan sampe mati—untuk itu Alex memanggilnya killer bee. Aku juga sedikit kebingungan menerima fakta kalau aku memiliki pacar yang begitu nyentrik. Dalam kasus ini, aku tidak mungkin membatalkan kencanku. TIDAK MUNGKIN MEMBATALKAN KENCANKU..!! Yah, bagai menemui simalakama, dan didorong rasa berbakti yang tinggi pada guru, aku memutuskan untuk menemui pak Agus. Dan sebagai gantinya, menyuruh Alex untuk menemui killer bee—dan aku meyakinkannya untuk membayar upeti. Dan sekarang, Alex menagih upetinya.
            “Oke. Gue bayar tuh upeti. Puas..“ Aku benar-benar di ujung tanduk kemepetan.
            “Wohoo, gitu donk man.“ teriak Alex, puas..
            Gitu donk keningnya peang. Hal ini sama dengan menggali lubang kuburku sendiri. Bagaimana tidak.? Mungkin kalian akan berpikir hal yang sama jika mengetahui askadimegaX sang Sally. (X = apa, siapa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana) Usaha terakhir yang sangat mungkin untuk aku lakukan adalah berdoa agar Tuhan menyayangiku. Aaarrgh...

Pratista Machine, Ruang Guru Viktor, keesokan harinya 20.44 WIB..
            “Kamu tau kan, Ryan. Tahun lalu, kamu mendapatkan nilai paling baik di bidang mekanika. Nilai A+ untuk pelajaran ini. Tentu ini adalah bibit intelegen yang harus dikembangkan selagi masih tunas, dan karena Bapak adalah salah satu dosen dalam bidang ini, maka Bapak akan, bla bla bla..“
            Beri aku waktu untuk menjelaskan. Karena kemarin aku mendapatkan wahyu dari Guru ini, jadi lah sekarang aku berada di ruangannya. Sumpah.!! Satu hal yang selalu mengganggu pikiranku. Jika hanya untuk mengucapkan “Ryan cepat selesaikan tugas kamu“ aku bertaruh hal ini tidak akan menyita hampir tiga puluh menit. Tapi, kenapa Pak Viktor selalu begini? Kenapa dia selalu lebih dari tiga puluh menit.?!! Kenapa dia selalu tidak langsung to the point..??!! Kenapa selalu aku yang harus mendengarkan.??!!  Apa ini yang namanya cinta.?!!
            Ehm, oke. Aku tau hal di atas sangatlah keluar dari topik kita saat ini. Intinya dosen satu ini sangatlah tidak efektif dalam menyampaikan sesuatu. Sampai sekarang pun aku masih heran, kenapa orang ajaib-nan-boros-kata-kata seperti Pak Viktor dapat menjadi guru.?? Dan parahnya, aku sama sekali tidak mendengar apa yang barusan dia katakan. Aku sadar. Aku dalam masalah..!!!
            “Jadi begitu Ryan. Apa kamu setuju.?“
            Benar kan. AKU DALAM MASALAH.!!
            “E...e, iya sebenarnya saya terserah bapak aja sih.“—terserah bapak aja, karena saya yang tidak tau apa-apa. Hwaa—“Saya kapan pun siap kok, Pak“—saya siap untuk menjadi siswa malang yang menderita karena tidak mendengarkan. Hwaa, Mamaaa.—“Asal kan waktunya selagi saya lenggang dan tidak repot. Ehehee..“—jangan pas saya lagi hang out bareng Alex, ngecengin cewek di cafetaria, jangan pas lagi Sweet Sunday.
            “Ohohohoho. Bagus Ryan. Ini tidak akan sulit.“
            Mati aku. Apa yang akan dilakukannya..!!!
            “Silakan temui dia di ruang sebelah.“ ujar Pak Viktor.
            Hahh.?? Dia bilang apa.? Menemui malaikat Izrail maksudnya.?? (sumpah gue ngaco banget..)
            “Bbb, baik, Pak.“ Aku melenggang semampai. Melangkah menuju ruang yang Pak Viktor maksud. Sesampainya di ruang yang dimaksud, aku tercengang. Bukan malaikat izrail, bukan juga segel fuinjutsu milik yondaime hokage, bukan pula hal yang lain-lain. Namun yang aku lihat di balik keremangan malam adalah siluet tubuh langsing yang membelakangiku, dan aku yakin dia perempuan. Satu pertanyaan yang terlintas, who is she?
            “Sally, ini orangnya.“ Guru kita angkat bicara. Dan pemilik-siluet-tubuh-indah-yang-dipanggil-Sally itu membalikkan badan.
            “Dia.??“ , Sally-cantik-bersiluet-indah itu berdecak saat menyadari kehadiranku. Wehh, apa maksudnya.
            “Kenalkan, dia Ryan Bownn. Dia siswa bidang mekanika terbaik di Pratista ini.“ puji Pak Viktor.
            “Sally Deww.“ Sally-bernama-mirip-embun(Dew) ini mengulurkan tangannya padaku. Wait, dari tadi aku sama sekali tidak mengerti dengan sikon saat ini. Ada apa, kenapa dan bagaimana.??
            “Ryan.“ Akhirnya aku sambut tangan Sally. Eh, tunggu. Sally.? Sally, Sal, ly.. Hah??? Dia??!!
            “Jadi, lo tentor gue?“ balas Sally.
            “Hahh.? Tentor.?“ pekikku. Tentor.?? Sally.? Tentor Sally?? Sally Tentor??
Oh, wait. Ini tidak buruk, bukan. Dan hei, momennya sangat tepat. Ehm. Yaah, Tuhan memang menyayangiku.

1 komentar: