Minggu, 06 Desember 2015

UNTAIAN CINTA CINTA



Masih empat puluh menit lagi sebelum waktu keberangkataan.
            Seseorang dengan mengenakan topi bisbol tengah duduk di dalam waiting room, menunggu waktu keberangkatan tiba. Sesekali ia melihat arloji swiss army di tangannya.
            Charles de Gaulle airport. Bisiknya dalam hati. Guratan-guratan kecemasan, keraguan, dan kegelisahan terpancar kuat dari sorot matanya. Entahlah, mungkin ini merupakan pertama kalinya ia bepergian antar negara, siapa yang tau. Tiba-tiba ia menarik ransel coklat dengan badge bendera USA di pojok kanan bawah, mengeluarkan sepasang headset. Tanpa terduga, sebuah amplop mencuat dari dalam ranselnya. Segera ia memungut amplop putih yang telah memudar itu. Dilihat dari bentuknya, dapat dipastikan bahwa itu bukanlah amplop baru. Banyak terdapat lipatan lusuh di permukaannya. Mungkin amplop tersebut telah berada di dalam ransel coklat dalam waktu yang lama. Mungkin ia menyimpan amplop tersebut karena suatu hal atau mungkin ia hanya lupa untuk membuangnya sebelum packing menuju Paris. Sekali lagi, siapa yang tau.

             Ternyata itu sebuah surat. Surat yang merupakan seluruh jawaban dari segala kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya selama ini. Surat yang dapat menjelaskan kenapa dia sedang berada di dalam ruang tunggu menanti pesawat yang akan membawanya pergi jauh dari Indonesia. Surat yang sangat berarti untuknya, hingga ia tetap menyimpannya sampai kini, hingga ia tak cukup berani untuk mengirimkan ke alamat di dalamnya. Terlihat dia sedang menarik napas dalam-dalam, lalu dia mulai membukanya. Sebuah surat dengan tulisan rapi dengan tinta memudar, di baris awal tertulis,
To my dearest, beloved, best friend ever
From your dearest, beloved, best friend ever
            Ia tertawa kecil. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Dimana semuanya berawal. Dimana sebuah penyesalan yang tidak akan pernah dapat ia lupakan berasal. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Raut wajahnya kini datar. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh. Di dalam benaknya terputar kembali untaian memori-memori yang telah ia kubur jauh di dalam.
***
            “Cintaaaa.”
            “Loh, Ramaaaa!!!”
            Bugh. Tubuh Cinta terempas tepat di bahuku. Dengan senyum geli aku membalas pelukan cewek dengan rambut panjang bergelombang ini.
            “Lo lama banget liburannya.”
            “Nggak usah kangen sampe histeris gitu dong. Baru gue tinggal seminggu ke Paris aja muka lo udah kayak orang depresi gitu. Gue sebegitu ngangeninnya ya?” Aku paling senang menggoda Cinta. Cewek ini sahabatku sejak kecil. Entah kebetulan atau takdir, aku dan Cinta selalu satu sekolah sejak SD.
            Cinta mengerutkan bibirnya. Membuatku tersenyum kecil. Dengan cepat aku mengeluarkan sesuatu dari saku seragamku dan kutarik tangan Cinta.
            “Oleh-oleh, buat Cinta.” Aku memasangkan gelang model hipster elegant berwarna pink dengan bandul paris di ujungnya. Cinta paling suka Paris. Aku paling tahu itu. Mata Cinta membulat begitu menyadari benda apa yang kini melingkar di tangannya.
            Dan, sekali lagi, tubuh Cinta mengempas di bahuku. Serius, cewek ini hiperaktif banget.
            “Thank you, thank you, thank youuuu. Lo emang sahabat gue paling baik dunia akhirat. Thank you.” Cinta berteriak sambil menggoncang-goncangkan pundakku. “Ngomong-ngomong, lo beli buat Vira juga?”
            “Gue cuman beli satu, Cin. Waktu gue jalan-jalan di sekitar rue de Commerce gue ngeliat gelang ini, dan langsung inget lo. Kebetutan juga stoknya tinggal satu.”
            “Jadi lo nggak beli buat Vira juga?”
            “Cin, nilai Bahasa Indonesia lo berapa sih? Pahami kalimat gue tadi dong,” aku menjawab dengan jengkel.
            Cinta benar-benar tidak peka. Fakta lain yang belakangan aku simpulkan adalah Cinta sepertinya mati rasa dengan makhluk bernama cowok. Terbukti, selama aku bersama Cinta dia tidak pernah sekalipun berpacaran (apa mungkin Cinta lesbian?) Cinta tidak pernah berhubungan lama dan serius dengan cowok, kecuali aku, tentu saja, dan itulah yang terpenting. Sambil berjalan menuju kelas, aku merangkul bahu Cinta dengan lengan kananku.
            “Kurus banget sih. Rasanya bahu lo cuman tulang di lapis kulit. Nggak doyan makan ya gara-gara gue tinggal seminggu?”
            “Enak ajaaa. Nggak ngaca banget sih. Badan lo juga kayak skeleton di laboratorium biologi gitu.”
            Aku tersenyum geli sambil mengacak-acak rambut Cinta.
*
            Valentine Day!! Dari dulu aku selalu suka hari Valentine. Tentu saja, mendadak semua toko menyediakan merchandise dengan tema pink dan love di mana-mana. Aku memeriksa bayanganku sekali lagi di depan cermin. Kuraih jam tangan jingga, tas sekolah, dan botol minum. Terdengar di halaman depan suara klason berbunyi, tanda Ayah sudah siap untuk mengantarku.
*
            “Cinta tungguin gue dong. Kok lo tiba-tiba ngambek sih.” Aku berlari kecil, berusaha menjajari langkah kaki Cinta di koridor sekolah.
            “Siapa yang ngambek sih. Terus juga ngapain lo ngikutin gue. Sana deh ke Vira aja kayaknya tadi asyik banget ngobrolnya.”
            What? Mungkinkah? Cinta jealous? Ini bukan mimpi kan?!!
            Aku kegirangan setengah mati memikirkan hal itu. Jadi selama ini aku tidak merasakan hal ini sendirian. Jadi selama ini Cinta… Ah sudahlah. Ada hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Segera aku menghentikan langkah Cinta. Kini aku dan dia berhadapan.
            “Tau nggak, lo cantik banget hari ini. Tumben rambut lo di kasih bando. Itu yang dari gue dulu ya? Oh iya, tambah cantik lagi kalo lo lagi jealous­ gini.”
            “Nggak lucu.” Cinta membalikkan badannya dan melangkah pergi. Namun dengan sigap aku menangkap pergelangan tangannya, bisa kurasakan gelang bandul Paris masih melingkar di sana, dan menariknya dengan lembut.
            “Eeeh, Raam. Lepasin. Ehh, toloong!” Aku dan Cinta berhenti di depan ruang kelasku. Setelah melepas tangan Cinta aku segera masuk ke dalam kelas. Beberapa detik kemudian aku kembali dengan tas kertas berwarna peach dengan motif menara Eiffel.
            “Teruntuk Cinta. Happy Valentine Day,” sambil membungkuk aku menyodorkan tas kertas di tanganku. “Oh iya, kotak pink yang lo bawa itu pasti buat gue kan? Ngomong-ngomong lo belum ngucapin selamat valentine ke gue. Ahhh, Cinta. Ayo sekarang lo yang ngucapin.” Cinta terdiam sejenak. “Happy Valentine Day, Ram.” Cinta melihat isi tas kertas. “Tas ransel?”
            “Iyaaa. Kembaran sama punya gue loh. Makanya gue beli warna coklat. Bagus kan?” Cinta mengeluarkan ransel coklat dengan badge bendera USA di pojok kanan.
            “Keren banget. Thanks Raaam!” Tiba-tiba Cinta memelukku. Aku mengusap lembut punggungnya.
            “Lo kenapa sih ngambek?”
            “Gue kesel tau. Lo selalu ngacangin gue tiap kali ada Vira. Kayak tadi tuhh. Ngomong-ngomong lo tadi ngasih Vira apa? Tas ransel juga?”
            “Dasar childish. Gitu aja ngambek.” Aku mengacak-acak rambut Cinta. “Tadi itu, gue sama Vira, tadi itu cuman…” aku menggantung kalimatku. Membuat Cinta mengeluarkan bibir lucu cemberutnya.
            “Apa? Lo ngapain tadi di deket taman?”
            “Bukan urusan lo. Kepo banget sih.” Cinta terdiam sejenak.
“Ram, lo beneran suka sama Vira ya?” Hah? Aku sedikit tersentak mendengarnya. Ya enggak lah Cin!! Kenapa Cinta belum juga menyadarinya.
            “Emm, menurut lo Cin? Lo sahabat terbaik gue, masa lo masih nggak tau sih?”
            “Jadi bener ya?” Entah, Cinta justru tersenyum. “Yaudah deh. Nih, buat lo.” Cinta menyodorkan kotak pink yang dari tadi di pegangnya.
            “Dari lo? Apaan nih? Boleh gue buka sekarang?”
            “Terserah. Oiya, itu dari temen gue. Dia nitipin itu buat lo. Katanya lebih seru unknown. Yaudah, Ram. Gue ke kelas dulu. Byee.”
            Sekali lagi, hah? Dari temennya Cinta? Aku memandang kotak pink polos cerah di tanganku. Cinta suka pink. Ini seharusnya dari Cinta, bukan teman Cinta. Sejak kapan aku memiliki pengagum rahasia? Namun Cinta segera pergi. Beberapa kali aku memanggilnya, Cinta tetap menoleh. Sesuatu yang aneh dan tidak benar merayap dan menguasai perasaanku.
*
            Malam itu terasa sangat dingin dan gelap. Aku menarik jaketku lebih rapat, menyusuri gang remang-remang menuju kompleks perumahanku. Aku dan Rama tengah berada di toko buku ketika tiba-tiba Rama bilang kalau dia ada keperluan mendesak yang penting dan harus pulang sekarang, sehingga aku harus pulang sendiri. Tengah asyik membaca komik, aku mengiyakan Rama, melupakan keadaan bahwa aku tidak membawa dompet dan Mama serta Ayahku sedang berada di luar kota karena pekerjaan mereka. Aku menarik napas dalam-dalam. Gang ini adalah jalan tercepat menuju kompleks rumahku. Sebenarnya aku bisa naik taksi. Tapi entahlah, sesuatu menyuruhku untuk melewatinya. Aku membulatkan tekatku. Aku berjalan lurus, perlahan menghilang ditelan kegelapan malam dalam remang-remang lampu kota nun jauh disana.
            Beberapa menit kemudian langkahku terhenti. Samar-samar tedengar suara gerombolan orang menuju ke arahku. Dan samar-samar pula tercium bau alkohol di sekitarku. Gawat. Ini gawat. Batinku dalam hati. Aku tau aku harus berbalik arah, ketika kemudian sebuah tangan kuat mencekam bahuku. Aku tersentak dan menoleh ke arah pemilik lengan. Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun dengan sebotol anggur di tangannya, di belakangnya berdiri 3 konco-konconya.
            “Malem-malem lewat di sini sendirian. Lo pasti lagi kerja?” pemuda itu berkata dengan badan sempoyongan.
            “Sorry, gue cuman mau lewat. Permisi, gue buru-buru.” Aku meneguhkan hati dan memberanikan diri untuk sesegera mungkin pergi dari sana. Namun kedua pemuda lain menghadangku. Salah seorang dari mereka memiliki codet di bawah matanya.
            “Nggak usah sok mahal deh. Udah bagus kita lagi baik. Oke deal, kita-kita mau pake lo. Coy, cantik juga nih cewek.”
            “Tolooong!! Please, lepasin gue. Tolooong! Toloongggg!!!!” aku terisak. Sekuat tenaga aku meminta pertolongan. Mustahil, tidak ada orang di sekitar gang ini.
            Tubuhku terempas ke tanah. Tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan. Aku menangis dalam kepasrahan. Saat tubuhku terlentang di tanah, pemuda-umur-20-tahun mengunci kedua tanganku dengan tangannya. Badan beratnya menindih badanku. Mama, Papa. Tolong Cinta. Seseorang, tolooong. Aku dapat merasakan banyak tangan di sekitar tubuhku. Jeans biru di pinggangku mulai melonggar. Tidak. Tolooong!! Tuhan, aku tidak pernah mengira hal ini akan terjadi. Tolong. Dadaku terasa sesak.
            “Cih, badan lo macem triplek gini. Tapi nggak masalah, untung lo cantik.” Sepertinya suara pria bercodet di atas kepalaku.
            Kedua tanganku tetap terkunci. Pandanganku kabur karena air mata. Samar-samar terlihat pria bercodet duduk di atas perutku. Sebuah tangan meraba dadaku, membuka semua kancing kemeja yang aku kenakan. Seseorang mencium leher kananku, kiri, sebuah tangan menekan pundakku, meraba dadaku dan meremasnya. Sepasang tangan kuat memaksaku berdiri lalu mendorong badanku ke tembok. Dapat kurasakan jeansku telah terlepas sebatas lutut. Seseorang kembali mencium leherku, kedua tangannya meremas pinggangku. Aku merasa mual. Tolong. Rama. Tolong aku. Rama. Rama! Entah mendapat kekuatan apa, sekuat tenaga aku menendang orang di depanku hingga tersentak mundur. Pemuda lainnya tampak terkejut. Menyadari mereka lengah, sekuat tenaga aku berlari. Sambil menarik jeans dan merapatkan kemeja yang terburai aku berteriak meminta pertolongan sekeras-kerasnya.
            Setibanya di mulut gang, terlihat keramaian menuju ke arahku. Sepertinya para warga sekitar yang mendengar teriakanku. Aku terlalu gamang untuk mencerna keadaan. Aku merasakan badanku digoncang-goncang. Kiri kanan menanyakan pertanyaan serupa. Ada apa? Kamu baik-baik saja? Di mana rumahmu nak? Dasar kurang ajar para pemabuk itu! Aku masih terguncang dengan segala hal ini.
            “Cinta? Cinta?!” suara Rama! “Cinta itu kamu? Cinta kamu di mana?!!!” Rama! Iya aku! Rama! “Cinta? Kamu kenapa?” Sebuah lengan mendekapku dengan kuat. Setelah semua yang kulalui, aku tersentak menerima sentuhan mendadak. Namun, aroma parfum yang begitu khas, suara menenangkan yang terdengan begitu familiar. Aku melunak dalam pelukannya. “Rama,” suaraku hampir tidak terdengar. Sedetik kemudian, seluruh air mataku tumpah. Aku membenamkan seluruh wajahku di bahu Rama. Menangis sekuat-kuatnya. Rama mengusap punggungku sambil membisikkan kata-kata “Gue di sini Cin. Udah, Udah. Gue di sini. Maaf, Cin. Maafin gue.”
            “Cinta? Lo kenapa Cin? Gimana keadaan lo?” Suara perempuan. Familiar. Siapa?
            “Vir, biarin Cinta sendiri dulu. Dia kayaknya masih shocked.” Siapa? Vira? Kenapa Vira di sini? Rama? Kenapa Rama di sini? Kenapa Rama dan Vira di sini?
            “Kalian berdua gimana bisa di sini?” dengan suara serak aku bertanya. Aku berusaha mendongakkan wajahku. Memandang Rama dan Vira bergantian.
            “Oh, hari ini gue ulang tahun. Kebetulan partynya di café seberang jalan itu. Rama juga di sana. Terus gue denger rame-rame dari arah sini. Ternyata lo, gue khawatir banget.”
            “Ulang tahun? Rama?” Aku berhenti sejenak, mencerna apa yang sedang terjadi. “Ram, lo bilang..”
            “Cinta gue bisa jelasin. Gue tadi..”
            Aku mengurai pelukan Rama. Semua sudah jelas. Semua hal ini. Segala kejadian ini. Aku bangkit lalu berjalan pergi dari mereka berdua. Perutku terasa mual. Sangat mual.
            “Cinta tunggu Cin.” Rama berjalan di belakangku. Butir-butir air mata mengalir deras keluar dari mataku.
            “Cin gue nggak tau kalo kejadiannya bakal kayak gini. Cinta dengerin gue.” Rama meninggalkan aku hanya untuk bersama Vira. Rama meninggalkanku sendirian hingga aku harus mengalami semua kejadian buruk ini, hanya karena dia ingin pergi ke ulang tahun Vira!
            “Cinta!” Rama membentakku, untuk pertama kalinya. Aku membalikkan badan. Dengan mata penuh air mata aku meluapkan segalanya.
            “Apa?! Lo jahat, Ram! Lo bilang lo ada keperluan penting hingga lo ninggalin gue sendirian. Sepenting itu buat dateng ke ulang tahun Vira?! Gue nyaris kehilangan harga diri, Ram! Bertahun-tahun kita sahabatan, dan lo udah ngancurin semuanya hanya dalam satu malem. Mulai sekarang, gue benci sama lo. Gue benci sama lo, Rama!”
            Hening sejenak. Namun kemudian Rama memelukku, erat. Isakanku semakin menjadi. Pelukan Rama sangat kuat, dan nyaman. Perlahan Rama mendonggakkan kepalaku. Jarak kami sangat dekat saat ini. Rama mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan dia menciumku, lembut.
            Plak!
            “Gue benci lo!” Segera aku berlari ke pinggir jalan, menghentikan taksi terdekat yang melaju.
            “Cinta, gue… Cinta dengerin gue. Cinta gue cinta…Cinta!!”
            Aku membuka pintu taksi, mengempaskan tubuhku, lalu terisak kembali. Semua kejadian ini terlalu menyakitkan. Rama berteriak dari luar.
            “Cinta! Aku cinta kamu, Cinta!” Aku tidak mendengar teriakan Rama.
***
            Terdengar suara dari speaker. Menandakan sekaranglah boarding time. Dia melipat kembali surat itu lalu memasukkannya ke dalam ransel coklat. Segera dia meraih bawaannya lalu masuk sesuai dengan gate yang tertera pada boarding pass. Perlahan, pewasat mulai lepas landas. Meninggalkan Indonesia, menuju negeri asing yang terpisah dengan banyak negara. Dia mengusap kedua matanya. Terlihat gelang hipster dengan bandul paris melingkar di tangan kanannya.
            Pandangannya tetap menerawang. Masih terekam jelas dalam memorinya, betapa senangnya dia saat mengetahui Rama hanya membeli satu gelang. Hanya untuknya. Betapa sakit dan hancur hatinya pada hari Valentine saat mengetahui Rama telah jatuh hati pada Vira, sangat sakit hingga dia berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Karena dia tidak mau Rama tau bahwa air mata sedang mengalir deras di pipinya saat itu. Kotak pink yang dia berikan, berisi brownies hasil jerih payahnya semalam sebelum hari valentine. Betapa dia sangat membenci Rama karena lebih mementingkan Vira di atas dirinya.
            Dan masih tergambar jelas, bahwa setelah Rama menciumnya di malam mengenaskan itu, mereka berdua tidak pernah berkomunikasi lagi. Segala ujian dan kegiatan sekolah menjelang kelulusan membuat keduanya tetap pada ruang mereka masing-masing. Tanpa kata, tanpa suara, namun keduanya merasakan hal yang sama. Sakit, sesak, rindu satu sama lain yang teramat besar. Kedua hati yang terpisah karena kekeliruan logika dalam menerima.
            Dia memejamkan kedua matanya. Paris, sangat jauh. Amat sangat jauh. Jauh di lubuk hatinya, dia masih menyimpan secercah harapan untuk bertemu Rama kembali. Jauh di lubuk hatinya, selalu ada suara yang membisikkan kalimat yang tak pernah terucap. Jauh di lubuk hatinya. Dia juga masih ingat, pada barisan terakhir surat yang tidak pernah dikirimnya. Di sana tertulis..
            Aku mencintaimu, Rama. Mulai dahulu sampai sekarang, aku selalu mencintaimu.

0 komentar:

Posting Komentar