Masih
empat puluh menit lagi sebelum waktu keberangkataan.
Seseorang
dengan mengenakan topi bisbol tengah duduk di dalam waiting room, menunggu waktu keberangkatan tiba. Sesekali ia
melihat arloji swiss army di
tangannya.
Charles de Gaulle airport. Bisiknya
dalam hati. Guratan-guratan kecemasan, keraguan, dan kegelisahan terpancar kuat
dari sorot matanya. Entahlah, mungkin ini merupakan pertama kalinya ia
bepergian antar negara, siapa yang tau. Tiba-tiba ia menarik ransel coklat dengan
badge bendera USA di pojok kanan bawah, mengeluarkan sepasang headset. Tanpa terduga, sebuah amplop
mencuat dari dalam ranselnya. Segera ia memungut amplop putih yang telah
memudar itu. Dilihat dari bentuknya, dapat dipastikan bahwa itu bukanlah amplop
baru. Banyak terdapat lipatan lusuh di permukaannya. Mungkin amplop tersebut
telah berada di dalam ransel coklat dalam waktu yang lama. Mungkin ia menyimpan
amplop tersebut karena suatu hal atau mungkin ia hanya lupa untuk membuangnya
sebelum packing menuju Paris. Sekali
lagi, siapa yang tau.
Ternyata itu sebuah surat. Surat yang
merupakan seluruh jawaban dari segala kegelisahan dan kecemasan yang dialaminya
selama ini. Surat yang dapat menjelaskan kenapa dia sedang berada di dalam
ruang tunggu menanti pesawat yang akan membawanya pergi jauh dari Indonesia.
Surat yang sangat berarti untuknya, hingga ia tetap menyimpannya sampai kini,
hingga ia tak cukup berani untuk mengirimkan ke alamat di dalamnya. Terlihat
dia sedang menarik napas dalam-dalam, lalu dia mulai membukanya. Sebuah surat
dengan tulisan rapi dengan tinta memudar, di baris awal tertulis,
To
my dearest, beloved, best friend ever
From
your dearest, beloved, best friend ever
Ia
tertawa kecil. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam. Dimana semuanya
berawal. Dimana sebuah penyesalan yang tidak akan pernah dapat ia lupakan
berasal. Ia menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Raut wajahnya kini
datar. Pandangan matanya kosong, menerawang jauh. Di dalam benaknya terputar
kembali untaian memori-memori yang telah ia kubur jauh di dalam.
***
“Cintaaaa.”
“Loh,
Ramaaaa!!!”
Bugh. Tubuh Cinta terempas tepat di
bahuku. Dengan senyum geli aku membalas pelukan cewek dengan rambut panjang
bergelombang ini.
“Lo
lama banget liburannya.”
“Nggak
usah kangen sampe histeris gitu dong. Baru gue tinggal seminggu ke Paris aja
muka lo udah kayak orang depresi gitu. Gue sebegitu ngangeninnya ya?” Aku
paling senang menggoda Cinta. Cewek ini sahabatku sejak kecil. Entah kebetulan
atau takdir, aku dan Cinta selalu satu sekolah sejak SD.
Cinta
mengerutkan bibirnya. Membuatku tersenyum kecil. Dengan cepat aku mengeluarkan
sesuatu dari saku seragamku dan kutarik tangan Cinta.
“Oleh-oleh,
buat Cinta.” Aku memasangkan gelang model hipster elegant berwarna pink dengan bandul paris di ujungnya.
Cinta paling suka Paris. Aku paling tahu itu. Mata Cinta membulat begitu
menyadari benda apa yang kini melingkar di tangannya.
Dan,
sekali lagi, tubuh Cinta mengempas di bahuku. Serius, cewek ini hiperaktif
banget.
“Thank
you, thank you, thank youuuu. Lo emang sahabat gue paling baik dunia akhirat.
Thank you.” Cinta berteriak sambil menggoncang-goncangkan pundakku. “Ngomong-ngomong,
lo beli buat Vira juga?”
“Gue
cuman beli satu, Cin. Waktu gue jalan-jalan di sekitar rue de Commerce gue ngeliat gelang ini, dan langsung inget lo.
Kebetutan juga stoknya tinggal satu.”
“Jadi
lo nggak beli buat Vira juga?”
“Cin,
nilai Bahasa Indonesia lo berapa sih? Pahami kalimat gue tadi dong,” aku
menjawab dengan jengkel.
Cinta
benar-benar tidak peka. Fakta lain yang belakangan aku simpulkan adalah Cinta
sepertinya mati rasa dengan makhluk bernama
cowok. Terbukti, selama aku bersama Cinta dia tidak pernah sekalipun berpacaran
(apa mungkin Cinta lesbian?) Cinta tidak pernah berhubungan lama dan serius
dengan cowok, kecuali aku, tentu saja, dan itulah yang terpenting. Sambil
berjalan menuju kelas, aku merangkul bahu Cinta dengan lengan kananku.
“Kurus
banget sih. Rasanya bahu lo cuman tulang di lapis kulit. Nggak doyan makan ya
gara-gara gue tinggal seminggu?”
“Enak
ajaaa. Nggak ngaca banget sih. Badan lo juga kayak skeleton di laboratorium
biologi gitu.”
Aku
tersenyum geli sambil mengacak-acak rambut Cinta.
*
Valentine Day!! Dari dulu aku selalu
suka hari Valentine. Tentu saja, mendadak semua toko menyediakan merchandise dengan tema pink dan love di mana-mana. Aku memeriksa bayanganku sekali lagi di depan
cermin. Kuraih jam tangan jingga, tas sekolah, dan botol minum. Terdengar di
halaman depan suara klason berbunyi, tanda Ayah sudah siap untuk mengantarku.
*
“Cinta
tungguin gue dong. Kok lo tiba-tiba ngambek sih.” Aku berlari kecil, berusaha
menjajari langkah kaki Cinta di koridor sekolah.
“Siapa
yang ngambek sih. Terus juga ngapain lo ngikutin gue. Sana deh ke Vira aja
kayaknya tadi asyik banget ngobrolnya.”
What? Mungkinkah? Cinta jealous? Ini bukan mimpi kan?!!
Aku
kegirangan setengah mati memikirkan hal itu. Jadi selama ini aku tidak
merasakan hal ini sendirian. Jadi selama ini Cinta… Ah sudahlah. Ada hal lain
yang lebih penting untuk dipikirkan. Segera aku menghentikan langkah Cinta.
Kini aku dan dia berhadapan.
“Tau
nggak, lo cantik banget hari ini. Tumben rambut lo di kasih bando. Itu yang
dari gue dulu ya? Oh iya, tambah cantik lagi kalo lo lagi jealous gini.”
“Nggak
lucu.” Cinta membalikkan badannya dan melangkah pergi. Namun dengan sigap aku
menangkap pergelangan tangannya, bisa kurasakan gelang bandul Paris masih
melingkar di sana, dan menariknya dengan lembut.
“Eeeh,
Raam. Lepasin. Ehh, toloong!” Aku dan Cinta berhenti di depan ruang kelasku.
Setelah melepas tangan Cinta aku segera masuk ke dalam kelas. Beberapa detik
kemudian aku kembali dengan tas kertas berwarna peach dengan motif menara
Eiffel.
“Teruntuk
Cinta. Happy Valentine Day,” sambil membungkuk aku menyodorkan tas kertas di
tanganku. “Oh iya, kotak pink yang lo bawa itu pasti buat gue kan?
Ngomong-ngomong lo belum ngucapin selamat valentine ke gue. Ahhh, Cinta. Ayo
sekarang lo yang ngucapin.” Cinta terdiam sejenak. “Happy Valentine Day, Ram.” Cinta
melihat isi tas kertas. “Tas ransel?”
“Iyaaa.
Kembaran sama punya gue loh. Makanya gue beli warna coklat. Bagus kan?” Cinta
mengeluarkan ransel coklat dengan badge bendera USA di pojok kanan.
“Keren
banget. Thanks Raaam!” Tiba-tiba Cinta memelukku. Aku mengusap lembut
punggungnya.
“Lo
kenapa sih ngambek?”
“Gue
kesel tau. Lo selalu ngacangin gue tiap kali ada Vira. Kayak tadi tuhh.
Ngomong-ngomong lo tadi ngasih Vira apa? Tas ransel juga?”
“Dasar
childish. Gitu aja ngambek.” Aku
mengacak-acak rambut Cinta. “Tadi itu, gue sama Vira, tadi itu cuman…” aku
menggantung kalimatku. Membuat Cinta mengeluarkan bibir lucu cemberutnya.
“Apa?
Lo ngapain tadi di deket taman?”
“Bukan
urusan lo. Kepo banget sih.” Cinta terdiam sejenak.
“Ram, lo beneran suka
sama Vira ya?” Hah? Aku sedikit
tersentak mendengarnya. Ya enggak lah Cin!! Kenapa Cinta belum juga
menyadarinya.
“Emm,
menurut lo Cin? Lo sahabat terbaik gue, masa lo masih nggak tau sih?”
“Jadi
bener ya?” Entah, Cinta justru tersenyum. “Yaudah deh. Nih, buat lo.” Cinta menyodorkan
kotak pink yang dari tadi di pegangnya.
“Dari
lo? Apaan nih? Boleh gue buka sekarang?”
“Terserah.
Oiya, itu dari temen gue. Dia nitipin itu buat lo. Katanya lebih seru unknown. Yaudah, Ram. Gue ke kelas dulu.
Byee.”
Sekali
lagi, hah? Dari temennya Cinta? Aku
memandang kotak pink polos cerah di tanganku. Cinta suka pink. Ini seharusnya
dari Cinta, bukan teman Cinta. Sejak kapan aku memiliki pengagum rahasia? Namun
Cinta segera pergi. Beberapa kali aku memanggilnya, Cinta tetap menoleh. Sesuatu
yang aneh dan tidak benar merayap dan menguasai perasaanku.
*
Malam
itu terasa sangat dingin dan gelap. Aku menarik jaketku lebih rapat, menyusuri
gang remang-remang menuju kompleks perumahanku. Aku dan Rama tengah berada di
toko buku ketika tiba-tiba Rama bilang kalau dia ada keperluan mendesak yang
penting dan harus pulang sekarang, sehingga aku harus pulang sendiri. Tengah
asyik membaca komik, aku mengiyakan Rama, melupakan keadaan bahwa aku tidak
membawa dompet dan Mama serta Ayahku sedang berada di luar kota karena
pekerjaan mereka. Aku menarik napas dalam-dalam. Gang ini adalah jalan tercepat
menuju kompleks rumahku. Sebenarnya aku bisa naik taksi. Tapi entahlah, sesuatu
menyuruhku untuk melewatinya. Aku membulatkan tekatku. Aku berjalan lurus, perlahan
menghilang ditelan kegelapan malam dalam remang-remang lampu kota nun jauh
disana.
Beberapa
menit kemudian langkahku terhenti. Samar-samar tedengar suara gerombolan orang
menuju ke arahku. Dan samar-samar pula tercium bau alkohol di sekitarku. Gawat. Ini gawat. Batinku dalam hati.
Aku tau aku harus berbalik arah, ketika kemudian sebuah tangan kuat mencekam
bahuku. Aku tersentak dan menoleh ke arah pemilik lengan. Seorang pemuda
berusia sekitar 20 tahun dengan sebotol anggur di tangannya, di belakangnya
berdiri 3 konco-konconya.
“Malem-malem
lewat di sini sendirian. Lo pasti lagi kerja?”
pemuda itu berkata dengan badan sempoyongan.
“Sorry,
gue cuman mau lewat. Permisi, gue buru-buru.” Aku meneguhkan hati dan memberanikan
diri untuk sesegera mungkin pergi dari sana. Namun kedua pemuda lain
menghadangku. Salah seorang dari mereka memiliki codet di bawah matanya.
“Nggak
usah sok mahal deh. Udah bagus kita lagi baik. Oke deal, kita-kita mau pake lo. Coy, cantik juga nih cewek.”
“Tolooong!!
Please, lepasin gue. Tolooong! Toloongggg!!!!” aku terisak. Sekuat tenaga aku
meminta pertolongan. Mustahil, tidak ada orang di sekitar gang ini.
Tubuhku
terempas ke tanah. Tidak mungkin. Apa
yang harus aku lakukan. Aku menangis dalam kepasrahan. Saat tubuhku terlentang
di tanah, pemuda-umur-20-tahun mengunci kedua tanganku dengan tangannya. Badan
beratnya menindih badanku. Mama, Papa.
Tolong Cinta. Seseorang, tolooong. Aku dapat merasakan banyak tangan di
sekitar tubuhku. Jeans biru di pinggangku mulai melonggar. Tidak. Tolooong!! Tuhan, aku tidak pernah mengira hal ini akan terjadi.
Tolong. Dadaku terasa sesak.
“Cih,
badan lo macem triplek gini. Tapi nggak masalah, untung lo cantik.” Sepertinya
suara pria bercodet di atas kepalaku.
Kedua
tanganku tetap terkunci. Pandanganku kabur karena air mata. Samar-samar
terlihat pria bercodet duduk di atas perutku. Sebuah tangan meraba dadaku,
membuka semua kancing kemeja yang aku kenakan. Seseorang mencium leher kananku,
kiri, sebuah tangan menekan pundakku, meraba dadaku dan meremasnya. Sepasang
tangan kuat memaksaku berdiri lalu mendorong badanku ke tembok. Dapat kurasakan
jeansku telah terlepas sebatas lutut. Seseorang kembali mencium leherku, kedua
tangannya meremas pinggangku. Aku merasa mual. Tolong. Rama. Tolong aku. Rama. Rama! Entah mendapat kekuatan apa,
sekuat tenaga aku menendang orang di depanku hingga tersentak mundur. Pemuda
lainnya tampak terkejut. Menyadari mereka lengah, sekuat tenaga aku berlari.
Sambil menarik jeans dan merapatkan kemeja yang terburai aku berteriak meminta
pertolongan sekeras-kerasnya.
Setibanya
di mulut gang, terlihat keramaian menuju ke arahku. Sepertinya para warga
sekitar yang mendengar teriakanku. Aku terlalu gamang untuk mencerna keadaan.
Aku merasakan badanku digoncang-goncang. Kiri kanan menanyakan pertanyaan
serupa. Ada apa? Kamu baik-baik saja? Di
mana rumahmu nak? Dasar kurang ajar para pemabuk itu! Aku masih terguncang
dengan segala hal ini.
“Cinta?
Cinta?!” suara Rama! “Cinta itu kamu?
Cinta kamu di mana?!!!” Rama! Iya aku!
Rama! “Cinta? Kamu kenapa?” Sebuah lengan mendekapku dengan kuat. Setelah
semua yang kulalui, aku tersentak menerima sentuhan mendadak. Namun, aroma
parfum yang begitu khas, suara menenangkan yang terdengan begitu familiar. Aku
melunak dalam pelukannya. “Rama,” suaraku hampir tidak terdengar. Sedetik
kemudian, seluruh air mataku tumpah. Aku membenamkan seluruh wajahku di bahu
Rama. Menangis sekuat-kuatnya. Rama mengusap punggungku sambil membisikkan
kata-kata “Gue di sini Cin. Udah, Udah. Gue di sini. Maaf, Cin. Maafin gue.”
“Cinta?
Lo kenapa Cin? Gimana keadaan lo?” Suara
perempuan. Familiar. Siapa?
“Vir,
biarin Cinta sendiri dulu. Dia kayaknya masih shocked.” Siapa? Vira? Kenapa
Vira di sini? Rama? Kenapa Rama di sini? Kenapa Rama dan Vira di sini?
“Kalian
berdua gimana bisa di sini?” dengan suara serak aku bertanya. Aku berusaha mendongakkan
wajahku. Memandang Rama dan Vira bergantian.
“Oh,
hari ini gue ulang tahun. Kebetulan partynya
di café seberang jalan itu. Rama juga di sana. Terus gue denger rame-rame dari
arah sini. Ternyata lo, gue khawatir banget.”
“Ulang
tahun? Rama?” Aku berhenti sejenak, mencerna apa yang sedang terjadi. “Ram, lo
bilang..”
“Cinta
gue bisa jelasin. Gue tadi..”
Aku
mengurai pelukan Rama. Semua sudah jelas. Semua hal ini. Segala kejadian ini.
Aku bangkit lalu berjalan pergi dari mereka berdua. Perutku terasa mual. Sangat
mual.
“Cinta
tunggu Cin.” Rama berjalan di belakangku. Butir-butir air mata mengalir deras
keluar dari mataku.
“Cin
gue nggak tau kalo kejadiannya bakal kayak gini. Cinta dengerin gue.” Rama
meninggalkan aku hanya untuk bersama Vira. Rama meninggalkanku sendirian hingga
aku harus mengalami semua kejadian buruk ini, hanya karena dia ingin pergi ke
ulang tahun Vira!
“Cinta!”
Rama membentakku, untuk pertama kalinya. Aku membalikkan badan. Dengan mata
penuh air mata aku meluapkan segalanya.
“Apa?!
Lo jahat, Ram! Lo bilang lo ada keperluan penting hingga lo ninggalin gue
sendirian. Sepenting itu buat dateng ke ulang tahun Vira?! Gue nyaris
kehilangan harga diri, Ram! Bertahun-tahun kita sahabatan, dan lo udah
ngancurin semuanya hanya dalam satu malem. Mulai sekarang, gue benci sama lo.
Gue benci sama lo, Rama!”
Hening
sejenak. Namun kemudian Rama memelukku, erat. Isakanku semakin menjadi. Pelukan
Rama sangat kuat, dan nyaman. Perlahan Rama mendonggakkan kepalaku. Jarak kami
sangat dekat saat ini. Rama mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dan dia menciumku,
lembut.
Plak!
“Gue
benci lo!” Segera aku berlari ke pinggir jalan, menghentikan taksi terdekat
yang melaju.
“Cinta,
gue… Cinta dengerin gue. Cinta gue cinta…Cinta!!”
Aku
membuka pintu taksi, mengempaskan tubuhku, lalu terisak kembali. Semua kejadian
ini terlalu menyakitkan. Rama berteriak dari luar.
“Cinta!
Aku cinta kamu, Cinta!” Aku tidak mendengar teriakan Rama.
***
Terdengar
suara dari speaker. Menandakan sekaranglah boarding
time. Dia melipat kembali surat itu lalu memasukkannya ke dalam ransel
coklat. Segera dia meraih bawaannya lalu masuk sesuai dengan gate yang tertera pada boarding pass. Perlahan, pewasat mulai
lepas landas. Meninggalkan Indonesia, menuju negeri asing yang terpisah dengan
banyak negara. Dia mengusap kedua matanya. Terlihat gelang hipster dengan
bandul paris melingkar di tangan kanannya.
Pandangannya
tetap menerawang. Masih terekam jelas dalam memorinya, betapa senangnya dia
saat mengetahui Rama hanya membeli satu gelang. Hanya untuknya. Betapa sakit
dan hancur hatinya pada hari Valentine saat mengetahui Rama telah jatuh hati
pada Vira, sangat sakit hingga dia berjalan tanpa menoleh ke belakang lagi. Karena
dia tidak mau Rama tau bahwa air mata sedang mengalir deras di pipinya saat
itu. Kotak pink yang dia berikan, berisi brownies hasil jerih payahnya semalam
sebelum hari valentine. Betapa dia sangat membenci Rama karena lebih mementingkan
Vira di atas dirinya.
Dan
masih tergambar jelas, bahwa setelah Rama menciumnya di malam mengenaskan itu,
mereka berdua tidak pernah berkomunikasi lagi. Segala ujian dan kegiatan
sekolah menjelang kelulusan membuat keduanya tetap pada ruang mereka
masing-masing. Tanpa kata, tanpa suara, namun keduanya merasakan hal yang sama.
Sakit, sesak, rindu satu sama lain yang teramat besar. Kedua hati yang terpisah
karena kekeliruan logika dalam menerima.
Dia
memejamkan kedua matanya. Paris, sangat jauh. Amat sangat jauh. Jauh di lubuk
hatinya, dia masih menyimpan secercah harapan untuk bertemu Rama kembali. Jauh
di lubuk hatinya, selalu ada suara yang membisikkan kalimat yang tak pernah
terucap. Jauh di lubuk hatinya. Dia juga masih ingat, pada barisan terakhir
surat yang tidak pernah dikirimnya. Di sana tertulis..
Aku mencintaimu, Rama. Mulai dahulu sampai
sekarang, aku selalu mencintaimu.






0 komentar:
Posting Komentar