Agar kalian tidak bingung, akan aku
jelaskan kronologinya.
Saat telah sampai depan rumahnya,
Sally langsung menyembul keluar dari mobil. Tanpa mengatakan seucap, sepatah,
atau sesuku kata pun padaku. Ooh yang benar saja, ini sangat menggangguku. Oke,
aku tau. Kalian bertanya tentang apa yang aku harapkan? Ya, ya. Hal itu juga
akan aku jelaskan.
Beberapa waktu yang lalu, aku dan
Sally mengalami adegan-diam-tanpa-kata-sepuluh-detik dalam mobil. Dan—inilah
hal buruknya—untuk sisa waktu selanjutnya hingga sampai depan rumah Sally, kami
juga beradegan diam tanpa kata dengan durasi lebih lama lagi. Sial, bukan apa-apa jika hal ini
mengganguku. Aku menjadi amat sangat tidak nyaman berada di sekitar
cewek-cantik-seumur-hidupku ini. Apa? Iyaa, aku tau. Alasan aku memberi julukan
itu kepada Sally juga akan aku jelaskan. Hei, apa-apaan ini. Kalian terlalu
banyak memberiku tugas menjelaskan!!
Begini, dalam adegan-lima-menit
dalam mobil, aku menyentuh tangan Sally. Entah hal apa yang menggangku
pikiranku, aku menjadi sangat kaku saat tangan kami bersentuhan. Saat itu, aku
menatap bola mata Sally, sangat dalam. Sally melakukan hal yang sama padaku.
Dan hell, saat itulah. Hal kecil yang
tak pernah kusadari sebelumnya mulai muncul dan menghantuiku. Hingga saat
kini.!! Sally di depanku saat itu sangat
cantik. Bola matanya, berwarna biru kehitaman. Aku tau, sama sepertiku Sally
seorang blasteran Indo-Jerman. Kecantikan dari bola matanya didukung dengan
bulu mata yang lentik dan lebat. Hidung Sally juga lucu—entah apa yang
membuatku berpikir seperti itu, tetapi hidungnya yang kecil mancung itu
benar-benar lucu. Lalu aku melanjutkan pengamatanku ke bagian atas kepala.
Rambut. Sally berambut coklat bergelombang—tidak cukup keriting untuk dibilang
keriting—panjang sebahu yang saat itu diikat kebelakang. Hey man, setelah
kalian tau diskripsi tentang Sally, bayangkanlah betapa cantiknya bidadari satu
ini.
Namun untuk selanjutnya, sangat
tidak menyenangkan. Sampai tiba di depan rumahnya, Sally langsung ke luar. Nah,
ini lah ceritanya.
Saat kuputuskan untuk mengejar
Sally, baru dua langkah Sally berjalan menghampiriku, kerah bajuku seakan
tertarik. Dan benar saja. Sally yang melakukannya. Dan saat itu juga, Sally
terjatuh di pelukanku. Terlebih lagi, payahnya aku. Saat Sally terjatuh, aku
sontak berteriak serak-serak tak berisi layaknya tante-tante yang cengeng. Dan
setelah itu, hanya panik yang kualami.
Keesokan harinya, di Rumah Sakit Harapan
Bunda 18.06 WIB..
“Sally kenapa, Oom?” aku menghambur
saat melihat ayah Sally, Tuan Johnn, keluar dari ruangan.
“Ohoho. Dia nggak apa-apa. Itu
memang kebiasaannya Sally. Memangnya tadi kalian dari mana saja? Biasanya,
Sally suka pingsan kalo terlalu capek.” jawab ayah Sally.
“Umm, maaf Oom. Tadi kami
jalan-jalan di toko buku dulu. Lumayan lama lagi. Maaf.” ujarku dengan tampang
memelas dan menyesal. Ooh kenapa aku? Kalau aku pikir-pikir, kok aku terlihat
sangat mengkhawatirkan Sally ya.?
“Roger,
son. I must go. Kamu boleh masuk ke ruangan kalau mau.” Tuan Johnn bicara
sambil berlalu. Aku hanya diam tak menyahutnya.
Hei hei. Bukannya aku tak sopan.
Tapi, jujur yaa. Sejak pertama melihat wajah Tuan Johnn, ada sesuatu yang
mengganggu. Aku seakan de javu dengan
wajah Tuan Johnn. Oh wait! Kenapa aku
harus memanggil ayah Sally dengan sebutan Tuan? No, no, no. Oom Johnn sepertinya lebih keren. Ya sudahlah, mungkin
sekarang bukan saat yang tepat untuk ngelantur. Oke, aku harus menemui Sally.
Kulangkahkan kakiku menuju ruang di
mana Sally dirawat. Namun saat tanganku akan meraih gagang pintunya, tiba-tiba
pintu terbuka dan tentu saja hal ini membuatku terdorong ke belakang. Dan sosok
Sally muncul dari balik pintu.
“Ryan? Ngapain lo?” Sally berbicara
dengan nada sedikit ketus. Hei, kenapa harus dengan nada ‘sedikit ketus’?
“Aah? Gue? Iya, nengokin elo lah.
Ehehehe.”
Oh sial. Oke, entah hal apa yang
telah mengganggu otakku. Sekarang tiap kali aku bertemu Sally aku selalu
mengalami sebuah syndrome di mana detak jantungku meningkat, tergagap saat
bicara, dan melakukan gerakan aneh yang sangat tidak wajar untuk dilakukan.
Singkatnya, kenapa aku menjadi salah tingkah di depan Sally!!
Mungkin karena jawabanku—atau
mungkin efek dari syndrome sialan—yang aneh, Sally berdecak.
“Ikut gue yuk.” ajak Sally. Dia
langsung menyambar tanganku dan menariknya.
“Hah? Ke mana? Kata Oom, lo harus
banyak istirahat. Mending kita balik ke ruangan aja deh.”
“Bawel. Gue bosen. Lagian, gue udah
sehat lagi kok.”
Yaa, kalau Sally telah bertitah, hal
terbaik yang harus diambil adalah menurutinya.
***
Ternyata Sally mengajakku ke Café Mix
n’ Six. Tidak jauh dari rumah sakit tempatnya dirawat. Hanya sekitar 2 meter ke
arah timur dari Rumah Sakit Harapan Bunda.
“Kenapa lo makan di sini? Lo kan
masih sakit, Sally. Udah ah, balik lagi aja yuk.” Aku membuka percakapan. Saat
itu juga aku mengamit lengan Sally. Mengajaknya untuk berbelok arah menuju
rumah sakit.
“Aaah. Bego lo ya,” kata Sally.
Heh?? Apa-apaan cewek ini? Belum-belum aku sudah dapat satu ‘bego’ darinya—oke,
sebenarnya lebih dari satu kali Sally menyebutku bego.
“Kenapa? Lo itu masih saa..”
“Gue ke café bukan karena mau
makan.” Sally memotong perkataanku.
“Terus?”
“Mau tau? Ya ayo ikut.”
Sally berjalan lagi—menuju café.
Yeah, Sally memang aneh. Dia bilang dia ke café bukannya mau makan. Terus
kenapa? Berenang? Sesaat aku hanya mengangkat bahu. Dan kembali mengikuti
Sally.
“Oiya, ngomong-ngomong lo sakit
apa?” Aku menjajari langkah Sally.
“Aah? Emm, itu anu. Maag. Iya, maag.
Penyakit bawaan dari kecil.”
“Oooh. Nggak parah dong. Syukur kalo
gitu. Hehe.” Yaa, hanya perasaanku atau apa. Tapi aku melihat air muka Sally
berubah saat aku menanyakan penyakitnya. Apa maksudnya?
“Heh? Kenapa? Lo khawatir sama gue?”
Sally menoleh ke arahku sambil tersenyum. Wajahnya berubah jail.
Deg!,
jantungku berdegup. Hei, kenapa harus berdegup!!
“Eh. Iya. Maksud gue, enggak. Iya,
enggak. Iya nggak gitu,” jawabku gelagapan. Oh sial!! Kenapa harus gelagapan!!
“Jadi lo nggak khawatir sama gue?”
Sally bicara dengan nada tidak gembira.
“Bukan. Iya, maksud gue bukan gitu,”
jawabku (masih) gelagapan. Sial, sial!! Kenapa aku bisa sebegitu salting hanya karena pertanyaan simple
dari Sally?!
“Ahahahaha,” terdengar Sally
tertawa. Kenapa dia tertawa? “Bercanda lagi. Masuk yuk.” Sally menarik tanganku
dan berlari. Aku mengikutinya.
Sesampainya di dalam café, aku
mengamati café tersebut. Ruang dalam café itu seperti dibagi dua—atau memang
dibagi dua. Dari pintu masuk, akan ada dua jalur menuju bagian dalam café.
Jalur kiri, berinterior klasik. Dinding café di cat warna coklat kayu dengan
berbagai ukiran unik. Di dalamnya terlihat beberapa meja kayu dan kursi tertata
rapi. Dengan sebuah panggung kecil di bagian depan. Bisa aku pastikan ruangan
itu ditujukan kepada para orang dewasa yang mencari ketenangan dari
kesibukannya, atau untuk melepas penat. Intinya, orang yang datang ke ruangan
ini adalah orang dewasa yang tak suka keramaian. Tentu saja. Karena isi
penggung kecil di sana adalah alat musik akustik semua. Tak ada sound atau
pengeras suara lainnya.
Setelah puas mengamati sisi kiri,
aku berpaling ke sisi kanan. And wohoa!!
Sangat berbeda dari ruang sisi kiri. Di sisi kanan, suasananya sangat ramai.
Tembok dicat warna-warni dengan perpaduan yang keren. Terlihat di dalamnya
banyak remaja bergerumbul di setiap meja. Yea, café ini memang keren. Jadi
kesimpulannya, kiri untuk orang dewasa dan kanan untuk para teenage. Cukup
adil.
“Ryan…”
Hei, seperti ada yang memanggilku.
“Ry..aaann..”
Benar. Ada yang memanggilku. Aku
menengok. Kanan. Kiri. Itu dia. Ternyata Sally yang memanggilku. Oh, tentu
saja. Aku kan berangkat bersama Sally.
Sally berada di balik pintu ruangan
klasik di sebelah kiri. Hei, kenapa Sally pergi ke tempat orang dewasa seperti
itu?
“Loh, ngapain ke sini? Kamu nggak ke
sebelah kanan?”
“Enggak ah. Di sana ramai. Masuk yuk.”
Lagi-lagi Sally menarik tanganku. Dan aku (lagi-lagi) mengikutinya.
Sally berjalan mendahuluiku. Dia
menuju ke panggung kecil dan langsung duduk di kursi piano. Jari-jari lentiknya
mulai menekan tuts-tuts piano berwarna hitam itu. Ooh, mungkin itu alasan Sally
datang ke café ini. Untuk numpang main piano.
“Lo bisa nyanyi?” Sally bertanya
tanpa menoleh.
“Sialan. Gue nggak sebego itu kali,
sampe nyanyi nggak bisa.” Aku menuju tempat Sally duduk.
“Hehehehe. Yaudah. Lo pilih lagu
apa?”
“Emang lo tentu bisa mainin lagu
yang gue pilih?” Aku menyeret kursi kecil di dekat gitar. Kugeser tepat di
samping Sally.
“Iya ya,” balas Sally dengan wajah
pongah. “Yaudah kalo gitu gue yang pilih.”
Saat itu juga, jemari Sally menari
di atas benda hitam putih itu. Sesaat aku menyadari lagu yang dia pilih. Yeah,
Someone Like You, Adele.
Tulululut,
tulululut.. Yeah, aku harus mengakui. Sally memang pandai dengan benda
bertuts ini.
“Ya’. Mulai. I heard… that
you’re..settled down..” Sally mulai menyanyi.
“That you..found a boy..and
you’re..married now..”
Yeah, asyik juga. Aku dan Sally
menyanyi bersama. Atau akan lebih terlihat kalau hanya Sally yang menyanyi. Oke,
karena aku sadar suaraku tidaklah baik—aku tidak bilang suaraku jelek!—untuk
menyanyi di depan café seperti ini, aku bernyanyi dengan suara pelan. Sedangkan
Sally, yup harus kuakui juga kalau suaranya memang bagus. Hei, kalau
dipikir-pikir, kenapa Sally tidak masuk kelas musik saja?? Dia memiliki
bakat-bakat dasar yang harus dimiliki seorang musisi. Mahir memainkan alat
musik, Sally punya hal itu. Suara oke, Sally punya juga. Tampang, jangan ragu
lagi. Bener kan? Kenapa dia harus mengambil kelas mekanika?
“Eeh? Mbak cantik? Udah lama di sini
mbak? Sakit lagi ya?”
Sebuah sapaan mengentikan
kolaborasiku dengan Sally. Seseorang—yang tampaknya pelayan café
ini—menghampiri Sally.
“Hei, mbak Mike,” balas Sally. Ooh,
mereka saling kenal. “ Barusan kok mbak aku ke sininya.”
“Mbak cantik sakit lagi?” Pelayan
itu mengulangi pertanyaan awalnya.
“Eheheh. Iya nih mbak. Udah sehat
kok tapi sekarang.” Sally berbicara sangat riang. “Ohiya. Mbak, kenalin. Ini
Ryan. Ryan, kenalin, mbak Mike.”
Ya, selanjutnya aku dan
pelayan-bernama-mbak-Mike bersalaman sambil mengucap nama
masing-masing—standart orang kenalan selalu gitu yah—sambil melempar senyum.
“Aduuh. Mbak cantik baru kali ini
ngajak temennya ke sini. Cowok lagi. Pacarnya ya mbak?” mbak Mike
menyunggingkan senyum.
Deg!
Oh mulai. Kenapa jantung-konyol ini benar-benar konyol!! Ayolah Ryan, bukan hal
besar. Oke, calm down, man.
“Hah?” Sally mendongak ke arahku
lalu menyikut tubuhku. Aku meringis kecil karena sikutan Sally. “Jadi Ryan,
kata mbak Mike kamu pacarku tuh.”
“Bukan lagi, Mbak. Oiya, kenapa mbak
Mike kalo manggil Sally aneh gitu?” balasku, dan sebisa mungkin mengalihkan
topik pembicaraan ini.
“Ooh. Mbak cantik maksudnya? Iya,
pengen aja sih. Abis mbak Sally memang cantik kan. Hehehe. Yaudah deh, Mbak ke
belakang dulu ya. Mau kerja lagi.” Selesai bicara, mbak Mike langsung
menghambur ke arah dapur.
“Iyaa, lo harus akuin dong. Gue
emang cantik kan. Pake bilang sebutan mbak cantik itu aneh lagi. Huu..” Sally
memukul ringan kepalaku.
“Siapa bilang. Bibir kamu monyong
gitu dibilang cantik. Wekk.. ”
“Eh, sialan lo..”
Ahahaha. Aku membalas memukul ringan
kepala Sally dan segera berlari ke arah pintu. Dari belakang, Sally mengejarku.
“Ryaaaan. Sally..”
Seperti dipause, aku mengehentikan lariku. Bugh!
“Aduuh, Ryan kenapa berhenti.?” Sally menabrakku dari
belakang.
“Tuuh. Itu Rena kan?” Aku menunjuk asal suara yang
memanggilku. Dan Sally.
“Kalian ngapain ke sini bareng? Ngedate nih?” Rena tertawa kecil. “Duduk yuk. Temenin gue ngobrol.”
Rena berbicara setengah berteriak.
Sesaat Sally menoleh kepadaku. Seperti meminta
persetujuan. Aku mengangkat bahu—yang artinya sama dengan “Terserah deh. Aku
ngikut aja.”
“Yaudah deh. Yuk, Ryan.” Lagi-lagi sally menarik
tanganku. Hei,kenapa Sally selalu menarik-narik.
“Tumben lo sendiri, Ren,” tanya Sally sambil menarik
kursi.
“Iya pengen aja. Nah loh, tumben bareng Ryan??”
“Iya, panjang ceritanya. Gue haus nih. Mbak, mbaak.”
Sally melambai-lambaikan tangan. Seorang pelayan datang ke meja kami.
“Orange juice sama
fruit salad ya mbak. Mangganya yang
banyak. Hehe.”
“Loh, Sal. Tapi kan lo bilang tadi..”
“Iya gue tau. Gue bilang ke sini nggak mau makan, kan?
Nggak apa lah. Gue kan minum. Oiya, lo nggak sekalian pesen, Ryan?”
“Eee, enggak deh. Hehe.”
Hmm, aneh. Kenapa Sally memesan makanan seperti itu??






0 komentar:
Posting Komentar