Minggu, 06 Desember 2015

Part 3 : Their Beginning



            Agar kalian tidak bingung, akan aku jelaskan kronologinya.
            Saat telah sampai depan rumahnya, Sally langsung menyembul keluar dari mobil. Tanpa mengatakan seucap, sepatah, atau sesuku kata pun padaku. Ooh yang benar saja, ini sangat menggangguku. Oke, aku tau. Kalian bertanya tentang apa yang aku harapkan? Ya, ya. Hal itu juga akan aku jelaskan.
            Beberapa waktu yang lalu, aku dan Sally mengalami adegan-diam-tanpa-kata-sepuluh-detik dalam mobil. Dan—inilah hal buruknya—untuk sisa waktu selanjutnya hingga sampai depan rumah Sally, kami juga beradegan diam tanpa kata dengan durasi lebih lama lagi. Sial, bukan apa-apa jika hal ini mengganguku. Aku menjadi amat sangat tidak nyaman berada di sekitar cewek-cantik-seumur-hidupku ini. Apa? Iyaa, aku tau. Alasan aku memberi julukan itu kepada Sally juga akan aku jelaskan. Hei, apa-apaan ini. Kalian terlalu banyak memberiku tugas menjelaskan!!
            Begini, dalam adegan-lima-menit dalam mobil, aku menyentuh tangan Sally. Entah hal apa yang menggangku pikiranku, aku menjadi sangat kaku saat tangan kami bersentuhan. Saat itu, aku menatap bola mata Sally, sangat dalam. Sally melakukan hal yang sama padaku. Dan hell, saat itulah. Hal kecil yang tak pernah kusadari sebelumnya mulai muncul dan menghantuiku. Hingga saat kini.!!  Sally di depanku saat itu sangat cantik. Bola matanya, berwarna biru kehitaman. Aku tau, sama sepertiku Sally seorang blasteran Indo-Jerman. Kecantikan dari bola matanya didukung dengan bulu mata yang lentik dan lebat. Hidung Sally juga lucu—entah apa yang membuatku berpikir seperti itu, tetapi hidungnya yang kecil mancung itu benar-benar lucu. Lalu aku melanjutkan pengamatanku ke bagian atas kepala. Rambut. Sally berambut coklat bergelombang—tidak cukup keriting untuk dibilang keriting—panjang sebahu yang saat itu diikat kebelakang. Hey man, setelah kalian tau diskripsi tentang Sally, bayangkanlah betapa cantiknya bidadari satu ini.
            Namun untuk selanjutnya, sangat tidak menyenangkan. Sampai tiba di depan rumahnya, Sally langsung ke luar. Nah, ini lah ceritanya.
            Saat kuputuskan untuk mengejar Sally, baru dua langkah Sally berjalan menghampiriku, kerah bajuku seakan tertarik. Dan benar saja. Sally yang melakukannya. Dan saat itu juga, Sally terjatuh di pelukanku. Terlebih lagi, payahnya aku. Saat Sally terjatuh, aku sontak berteriak serak-serak tak berisi layaknya tante-tante yang cengeng. Dan setelah itu, hanya panik yang kualami.
Keesokan harinya, di Rumah Sakit Harapan Bunda 18.06 WIB..
            “Sally kenapa, Oom?” aku menghambur saat melihat ayah Sally, Tuan Johnn, keluar dari ruangan.
            “Ohoho. Dia nggak apa-apa. Itu memang kebiasaannya Sally. Memangnya tadi kalian dari mana saja? Biasanya, Sally suka pingsan kalo terlalu capek.” jawab ayah Sally.
            “Umm, maaf Oom. Tadi kami jalan-jalan di toko buku dulu. Lumayan lama lagi. Maaf.” ujarku dengan tampang memelas dan menyesal. Ooh kenapa aku? Kalau aku pikir-pikir, kok aku terlihat sangat mengkhawatirkan Sally ya.?
            Roger, son. I must go. Kamu boleh masuk ke ruangan kalau mau.” Tuan Johnn bicara sambil berlalu. Aku hanya diam tak menyahutnya.
            Hei hei. Bukannya aku tak sopan. Tapi, jujur yaa. Sejak pertama melihat wajah Tuan Johnn, ada sesuatu yang mengganggu. Aku seakan de javu dengan wajah Tuan Johnn. Oh wait! Kenapa aku harus memanggil ayah Sally dengan sebutan Tuan? No, no, no. Oom Johnn sepertinya lebih keren. Ya sudahlah, mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk ngelantur. Oke, aku harus menemui Sally.
            Kulangkahkan kakiku menuju ruang di mana Sally dirawat. Namun saat tanganku akan meraih gagang pintunya, tiba-tiba pintu terbuka dan tentu saja hal ini membuatku terdorong ke belakang. Dan sosok Sally muncul dari balik pintu.
            “Ryan? Ngapain lo?” Sally berbicara dengan nada sedikit ketus. Hei, kenapa harus dengan nada ‘sedikit ketus’?
            “Aah? Gue? Iya, nengokin elo lah. Ehehehe.”
            Oh sial. Oke, entah hal apa yang telah mengganggu otakku. Sekarang tiap kali aku bertemu Sally aku selalu mengalami sebuah syndrome di mana detak jantungku meningkat, tergagap saat bicara, dan melakukan gerakan aneh yang sangat tidak wajar untuk dilakukan. Singkatnya, kenapa aku menjadi salah tingkah di depan Sally!!
            Mungkin karena jawabanku—atau mungkin efek dari syndrome sialan—yang aneh, Sally berdecak.
            “Ikut gue yuk.” ajak Sally. Dia langsung menyambar tanganku dan menariknya.
            “Hah? Ke mana? Kata Oom, lo harus banyak istirahat. Mending kita balik ke ruangan aja deh.”
            “Bawel. Gue bosen. Lagian, gue udah sehat lagi kok.”
            Yaa, kalau Sally telah bertitah, hal terbaik yang harus diambil adalah menurutinya.
***
            Ternyata Sally mengajakku ke Café Mix n’ Six. Tidak jauh dari rumah sakit tempatnya dirawat. Hanya sekitar 2 meter ke arah timur dari Rumah Sakit Harapan Bunda.
            “Kenapa lo makan di sini? Lo kan masih sakit, Sally. Udah ah, balik lagi aja yuk.” Aku membuka percakapan. Saat itu juga aku mengamit lengan Sally. Mengajaknya untuk berbelok arah menuju rumah sakit.
            “Aaah. Bego lo ya,” kata Sally. Heh?? Apa-apaan cewek ini? Belum-belum aku sudah dapat satu ‘bego’ darinya—oke, sebenarnya lebih dari satu kali Sally menyebutku bego.
            “Kenapa? Lo itu masih saa..”
            “Gue ke café bukan karena mau makan.” Sally memotong perkataanku.
            “Terus?”
            “Mau tau? Ya ayo ikut.”
            Sally berjalan lagi—menuju café. Yeah, Sally memang aneh. Dia bilang dia ke café bukannya mau makan. Terus kenapa? Berenang? Sesaat aku hanya mengangkat bahu. Dan kembali mengikuti Sally.
            “Oiya, ngomong-ngomong lo sakit apa?” Aku menjajari langkah Sally.
            “Aah? Emm, itu anu. Maag. Iya, maag. Penyakit bawaan dari kecil.”
            “Oooh. Nggak parah dong. Syukur kalo gitu. Hehe.” Yaa, hanya perasaanku atau apa. Tapi aku melihat air muka Sally berubah saat aku menanyakan penyakitnya. Apa maksudnya?
            “Heh? Kenapa? Lo khawatir sama gue?” Sally menoleh ke arahku sambil tersenyum. Wajahnya berubah jail.
            Deg!, jantungku berdegup. Hei, kenapa harus berdegup!!
            “Eh. Iya. Maksud gue, enggak. Iya, enggak. Iya nggak gitu,” jawabku gelagapan. Oh sial!! Kenapa harus gelagapan!!
            “Jadi lo nggak khawatir sama gue?” Sally bicara dengan nada tidak gembira.
            “Bukan. Iya, maksud gue bukan gitu,” jawabku (masih) gelagapan. Sial, sial!! Kenapa aku bisa sebegitu salting hanya karena pertanyaan simple dari Sally?!
            “Ahahahaha,” terdengar Sally tertawa. Kenapa dia tertawa? “Bercanda lagi. Masuk yuk.” Sally menarik tanganku dan berlari. Aku mengikutinya.
            Sesampainya di dalam café, aku mengamati café tersebut. Ruang dalam café itu seperti dibagi dua—atau memang dibagi dua. Dari pintu masuk, akan ada dua jalur menuju bagian dalam café. Jalur kiri, berinterior klasik. Dinding café di cat warna coklat kayu dengan berbagai ukiran unik. Di dalamnya terlihat beberapa meja kayu dan kursi tertata rapi. Dengan sebuah panggung kecil di bagian depan. Bisa aku pastikan ruangan itu ditujukan kepada para orang dewasa yang mencari ketenangan dari kesibukannya, atau untuk melepas penat. Intinya, orang yang datang ke ruangan ini adalah orang dewasa yang tak suka keramaian. Tentu saja. Karena isi penggung kecil di sana adalah alat musik akustik semua. Tak ada sound atau pengeras suara lainnya.
            Setelah puas mengamati sisi kiri, aku berpaling ke sisi kanan. And wohoa!! Sangat berbeda dari ruang sisi kiri. Di sisi kanan, suasananya sangat ramai. Tembok dicat warna-warni dengan perpaduan yang keren. Terlihat di dalamnya banyak remaja bergerumbul di setiap meja. Yea, café ini memang keren. Jadi kesimpulannya, kiri untuk orang dewasa dan kanan untuk para teenage. Cukup adil.
            “Ryan…”
            Hei, seperti ada yang memanggilku.
            “Ry..aaann..”
            Benar. Ada yang memanggilku. Aku menengok. Kanan. Kiri. Itu dia. Ternyata Sally yang memanggilku. Oh, tentu saja. Aku kan berangkat bersama Sally.
            Sally berada di balik pintu ruangan klasik di sebelah kiri. Hei, kenapa Sally pergi ke tempat orang dewasa seperti itu?
            “Loh, ngapain ke sini? Kamu nggak ke sebelah kanan?”
            “Enggak ah. Di sana ramai. Masuk yuk.” Lagi-lagi Sally menarik tanganku. Dan aku (lagi-lagi) mengikutinya.
            Sally berjalan mendahuluiku. Dia menuju ke panggung kecil dan langsung duduk di kursi piano. Jari-jari lentiknya mulai menekan tuts-tuts piano berwarna hitam itu. Ooh, mungkin itu alasan Sally datang ke café ini. Untuk numpang main piano.
            “Lo bisa nyanyi?” Sally bertanya tanpa menoleh.
            “Sialan. Gue nggak sebego itu kali, sampe nyanyi nggak bisa.” Aku menuju tempat Sally duduk.
            “Hehehehe. Yaudah. Lo pilih lagu apa?”
            “Emang lo tentu bisa mainin lagu yang gue pilih?” Aku menyeret kursi kecil di dekat gitar. Kugeser tepat di samping Sally.
            “Iya ya,” balas Sally dengan wajah pongah. “Yaudah kalo gitu gue yang pilih.”
            Saat itu juga, jemari Sally menari di atas benda hitam putih itu. Sesaat aku menyadari lagu yang dia pilih. Yeah, Someone Like You, Adele.
            Tulululut, tulululut.. Yeah, aku harus mengakui. Sally memang pandai dengan benda bertuts ini.
            “Ya’. Mulai. I heard… that you’re..settled down..” Sally mulai menyanyi.
            “That you..found a boy..and you’re..married now..”
            Yeah, asyik juga. Aku dan Sally menyanyi bersama. Atau akan lebih terlihat kalau hanya Sally yang menyanyi. Oke, karena aku sadar suaraku tidaklah baik—aku tidak bilang suaraku jelek!—untuk menyanyi di depan café seperti ini, aku bernyanyi dengan suara pelan. Sedangkan Sally, yup harus kuakui juga kalau suaranya memang bagus. Hei, kalau dipikir-pikir, kenapa Sally tidak masuk kelas musik saja?? Dia memiliki bakat-bakat dasar yang harus dimiliki seorang musisi. Mahir memainkan alat musik, Sally punya hal itu. Suara oke, Sally punya juga. Tampang, jangan ragu lagi. Bener kan? Kenapa dia harus mengambil kelas mekanika?
            “Eeh? Mbak cantik? Udah lama di sini mbak? Sakit lagi ya?”
            Sebuah sapaan mengentikan kolaborasiku dengan Sally. Seseorang—yang tampaknya pelayan café ini—menghampiri Sally.
            “Hei, mbak Mike,” balas Sally. Ooh, mereka saling kenal. “ Barusan kok mbak aku ke sininya.”
            “Mbak cantik sakit lagi?” Pelayan itu mengulangi pertanyaan awalnya.
            “Eheheh. Iya nih mbak. Udah sehat kok tapi sekarang.” Sally berbicara sangat riang. “Ohiya. Mbak, kenalin. Ini Ryan. Ryan, kenalin, mbak Mike.”
            Ya, selanjutnya aku dan pelayan-bernama-mbak-Mike bersalaman sambil mengucap nama masing-masing—standart orang kenalan selalu gitu yah—sambil melempar senyum.
            “Aduuh. Mbak cantik baru kali ini ngajak temennya ke sini. Cowok lagi. Pacarnya ya mbak?” mbak Mike menyunggingkan senyum.
            Deg! Oh mulai. Kenapa jantung-konyol ini benar-benar konyol!! Ayolah Ryan, bukan hal besar. Oke, calm down, man.
            “Hah?” Sally mendongak ke arahku lalu menyikut tubuhku. Aku meringis kecil karena sikutan Sally. “Jadi Ryan, kata mbak Mike kamu pacarku tuh.”
            “Bukan lagi, Mbak. Oiya, kenapa mbak Mike kalo manggil Sally aneh gitu?” balasku, dan sebisa mungkin mengalihkan topik pembicaraan ini.
            “Ooh. Mbak cantik maksudnya? Iya, pengen aja sih. Abis mbak Sally memang cantik kan. Hehehe. Yaudah deh, Mbak ke belakang dulu ya. Mau kerja lagi.” Selesai bicara, mbak Mike langsung menghambur ke arah dapur.
            “Iyaa, lo harus akuin dong. Gue emang cantik kan. Pake bilang sebutan mbak cantik itu aneh lagi. Huu..” Sally memukul ringan kepalaku.
            “Siapa bilang. Bibir kamu monyong gitu dibilang cantik. Wekk.. ”
            “Eh, sialan lo..”
            Ahahaha. Aku membalas memukul ringan kepala Sally dan segera berlari ke arah pintu. Dari belakang, Sally mengejarku.
            “Ryaaaan. Sally..”
            Seperti dipause, aku mengehentikan lariku. Bugh!
            “Aduuh, Ryan kenapa berhenti.?” Sally menabrakku dari belakang.
            “Tuuh. Itu Rena kan?” Aku menunjuk asal suara yang memanggilku. Dan Sally.
           “Kalian ngapain ke sini bareng? Ngedate nih?” Rena tertawa kecil. “Duduk yuk. Temenin gue ngobrol.” Rena berbicara setengah berteriak.
            Sesaat Sally menoleh kepadaku. Seperti meminta persetujuan. Aku mengangkat bahu—yang artinya sama dengan “Terserah deh. Aku ngikut aja.”
            “Yaudah deh. Yuk, Ryan.” Lagi-lagi sally menarik tanganku. Hei,kenapa Sally selalu menarik-narik.
            “Tumben lo sendiri, Ren,” tanya Sally sambil menarik kursi.
            “Iya pengen aja. Nah loh, tumben bareng Ryan??”
            “Iya, panjang ceritanya. Gue haus nih. Mbak, mbaak.” Sally melambai-lambaikan tangan. Seorang pelayan datang ke meja kami.
            Orange juice sama fruit salad ya mbak. Mangganya yang banyak. Hehe.”
            “Loh, Sal. Tapi kan lo bilang tadi..”
            “Iya gue tau. Gue bilang ke sini nggak mau makan, kan? Nggak apa lah. Gue kan minum. Oiya, lo nggak sekalian pesen, Ryan?”
            “Eee, enggak deh. Hehe.”
            Hmm, aneh. Kenapa Sally memesan makanan seperti itu??

0 komentar:

Posting Komentar